Penulis :
Revrisond Baswir
Desain Cover : Ong
Hary Wahyu
Penata Aksara : Dwi Agus
M
Cetakan I :
April 2006
Penerbit :
Pustaka Pelajar
Sebagaimana dikemukakan oleh mantan wakil presiden bank dunia dan pemenang
nobel ekonomi 2001 Joseph E. Stiglitz, karena krisis serupa sebelumnya sudah
dialami pula oleh beberapa Negara lain, tentu lebih masuk akal bila fenomena
krisis itu dipahami sebagai sebuah gejala ekonomi global, yaitu yang dipicu
oleh semakin meningkatnya kegiatan spekulatif dalam traansaksi keuangan dunia
(hal 7)
Tetapi para ekonom neoliberal tadi lebih suka melihat kekuasaan para
spekulan itu sebagai determinan yang tidak perlu diganggu gugat. alih-alih
mengkritisi perilaku para spekulan dan kegagalan arsitektur keuangan global
tersebut, mereka lebih suka memperlakukan hal itu sebagai variable yang patut
dipuji dan dipuja (hal 7)
Masih ingat mafia Berkeley? Ungkapan tersebut akhir-akhir ini memang
jarang terdengar, terutama setelah ungkapan Mafia Ekonomi Orde Baru semakin
sering muncul ke permukaan. Tapi secara substansial, yang dimaksud oleh kedua
ungkapan tersebut adalah hal yang sama, yaitu kelompok ekonom Indonesia yang
“dibina” oleh pemerintah Amerika untuk membelokkan arah perekonomian Indonesia ke
jalan ekonomi pasar neoliberal atau neoliberalisme. (hal 17)
Pertama, adanya manipulasi
besar-besaran suasana batin masyarakat untuk memusuhi segala hal yang dapat
diasosiakan sebagai bagian dari Orde Lama. Tindakan tersebut antara lain
dilakukan oleh Orde Baru dengan memberangus komunisme, merehabilitasi
partai-partai politik yang dibekukan Soekarno, dan melakukan desukarnoisasi
secara besar-besaran. Akibatnya, warga masyarakat, termasuk para mahasiswa,
tidak hanya mendukung seluruh kebijakan ekonomi politik Orde Baru, tetapi
cenderung mengasosiakan diri mereka sebagai bagian dari rezim tersebut.
Kedua, adanya pemerintahan
tangan besi yang siap memberangus segala tindakan yang menghambat pelaksanaan
kebijakan pemerintah. Hal ini memang merupakan scenario inti dari naiknya militer sebagai penguasa Orde Baru.
Akibatnya, gerakan perlawanan yang dimotori oleh para perwira militer
sekalipun, seperti yang terjadi pada peristiwa Malari, dapat dihentikan dengan
cepat. Jenderal Soemitro, yang menjadi tulang punggung peristiwa tersebut,
dicopot dari jabatannya.
Ketiga, adanya dukungan besar-besaran kapitalisme
internasional untuk membiayai proses pemulihan ekonomi Indonesia. Hal ini, saya
kira, tidak hanya merupakan prasyarat keberhasilan para ekonom Mafia Berkeley.
Sesuai dengan suasana perang dingin yang sedang berlangsung ketika itu,
kelahiran Orde Baru memang tidak dapat dipisahkan dari rencana besar
kapitalisme internasional untuk membelokkan arah perekonomian Indonesia.
Artinya, termasuk kehadiran para ekonom Mafia Berkeley, tidak dapat
dipisahkan dari proyek besar kapitalisme international untuk menggulingkan
Soekarno. Sebab itu, tidak aneh, jika tangan-tangan kapitalisme internasional
telah hadir di sini jauh sebelum Soekarno digulingkan. (18-19)
Kelompok pertama, yang saya sebut sebagai kelompok nasionalis neoliberal,
adalah sebuah kelompok yang menekankan pentingnya arti keikutsertaan Indonesia
salam arus pergaulaan ekonomi dunia. Dengan tekanan seperti itu, tidak berarti
bahwa kelompok ini serta merta mengorbankan kepentingan rakyat bagi
keikutsertan Indonesia dalam pergaulan ekonomi dunia
Tetapi karena kelompok ini memaknai nasionalisme ekonomi dalam pengertian
seperti itu, kepentingan rakyat dalam pandangan kelompok ini tidak perlu
menjadi penghalang untuk terlibat secara aktif dalam pergaulan ekonomi dunia.
Keserasian ekonomi ndonesia dengan tata pergaulan ekonomi dunia, oleh kelompok
ini dipandang sebagai syarat mutlak untuk meningkatkan kemakmuran rakyat.
Kelompok kedua, yang saya sebut sebagai kelompok nasionalis populis,
adalah sebuah kelompok yang menekankan artinya kemandirian ekonomi Indonesia
dalam pentas pergaulan ekonomi internasional. Dengan tekanan seperti itu, tidak
berarti bahwa kelompok ini sama sekali anti pergaulan ekonomi dunia, anti modal
asing, atau anti utang luar negeri.
Tetapi karena kelompok ini memaknai nasionalisme ekonomi dalam pengertian
kepentingan ekonomi seluruh rakyat Indonesia, pergaulan dunia dalam pandngan
kelompok ini harus dilakukan dengan mendudukkan Indonesia sebagai sebuah Negara
merdeka. Artinya, pergaulan ekonomi dunia bagi bagi kelompok ini bukanlah harga
mati. Ia dilakukan hanya jika sejalan dengan kepentingan seluruh rakyat.
Kelompok ketiga, yang saya sebut sebagai kelompok anti nasionalis, adalah
kelompok yang sangat menekankan pentingnya arti kebebasan individu dalam
mengejar kepentingan ekonomi mereka masing-masing. Nasionalisme ekonomi oleh
kelompok ini dipandang sebagai bagian masa lalu dan penghalang kemajuan ekonomi
Beberapa nama yang masuk ke dalam kelompok pertama adalah Emil Salim,
Mohammad Sadli, Frans Seda, Dorodjatun Kuncorojakti, dan Budiono Kelompok
nasionalis neoliberal ini pada awal Orde
Baru sempat dikenal dengan julukan sebagai Mafia Berkeley. Belakangan, karena
anggota kelompok ini semakin banyak yang
tidak berasal dari universitas Kalifornia di Berkeley, kelompok ini
kadang-kadang dijuki sebagai Mafia Ekonomi Orde Baru.
Beberapa nama yang masuk ke dalam kelompok kedua adalah Mubyarto, Kwik Kian Gie,
Sritua Arief (Almarhum), Sri Edi Swasono, dan Rizal Ramli. Kelompok nasionalis
populis sesungguhnya merupakan spectrum dengan cakupan yang luas. Di dalamnya
tergabung ekonom-ekonom yang mengikuti jalur ekonomi pasar social, jalur
sosialisme pasar, dan jalur Keynesian. Belakangan, sebagaimana diketahui , Sri
Edi Swasono dan Rizal Ramli hadir ke hadapan public denga membawa bendera Tim
Indonesia Bangkit
Sedangkan kelompok ketiga
cenderung tidak terlalu menonjol dalam
pertukaran wacana tentang nasionalisme ekonomi anggota kelompok ini sebagian
bekerja sebagai pialang di bursa. Walaupun demikian, tidak berarti bahwa
kelompok ketiga ini tidak memiliki ruang di media massa. Dibandingkan dengan
kedua kelompok pertama, halaman media yang tersedia bagi kelompok ketiga ini
tergolong paling luas. (34-36)
Inti kebijakan ekonomi neoliberal menurut paket kebijakan ekonomi
ordoliberalisme meliputi: (1) tujuan utama ekonomi neoliberal adalah
pengembangan kebebasan individu untuk bersaing secara bebas-sempurna di pasar;
(2) kepemilikan pribadi terhadap factor-faktor produksi diakui; dan (3)
pembentukann harga pasar tidak bersifat alami, melainkan hasil dari penertiban
pasar yang dilakukan Negara melalui penerbitan undang-undang.
Khusus mengenai peranan regulasi Negara, Eucken mengemukakan empat hal
berikut sebagai bidang utama yang perlu mendapat perhatian: (1) pengaturan
persaingan usaha untuk mencegah monopoli dan kartel; (2) pengaturan pemungutan
pajak untuk mendorong investasi dan pembagian pendapatan; (3) pengaturan
ketenagakerjaan untuk menghindari terjadinya eksploitasi; dan (4) pengaturan
sistem pengupahan, khususnya untuk menetapkan jumlah upah minimum. (hal 78-79)
Pertanyaannya; “tindakan apakah yang harus dilakukan untuk mencegah
berlanjutnya bahaya globalisasi itu?” bila dicermati wacana mengenai bahaya globalisasi
dalam beberapa waktu belakangan ini, perlawanan terhadap globalisasi dalam
garis besarnya dapat dikelompokkan
kedalam tiga aliran berikut.
Pertama, perlawanan terhadap
pelaksanaan agenda-agenda globalisasi. Dalam hal ini yang dipersoalkan terutama
adalah soal waktu, sekuen, dan orang atau lembaga yang terkait dengan
pelaksanaan agenda-agenda globalisasi. Prinsip dasar yang melatarbelakangi
agenda-agenda globalisasi cenderung diterima apa adanya.
Kedua, perlawanan terhadap
agenda-agenda globalisasi. Perlawanan terhadap globalisasi dalam bentuk yang
kedua ini terutama diarahkan pada agenda-agenda globaisasi tertentu. Karena
diarahkan pada agenda-agenda globaisasi tertentu, perlawanan jenis yang kedua
ini cenderung bersifat parsial.
Ketiga, perlawanan terhadap
neoliberalisme atau ideologi yang menjadi ruh globalisasi. Dalam bentuk
perlawanan yang ketiga ini, globalisasi langsung di tolak pada tingkat
prinsipnya. Sedangkan ungkapan globalisasi diusulkan untuk diganti dengan
internasionalisasi. (hal 84-85).
Kembali pada orientasi kebijakan ekonomi Mega, dengan mencermati reaksi
para ekonom Mafia Berkeley tersebut, jelas sekali kelihatan betapa kukuhnya
mereka dalam mempertahankan kebijakan ekonomi yang berorientasi keluar dan
sangat memanjakan para investor tersebut. Para ekonom Mafia Berkeley tampaknya
pura-pura tidak tahu bahwa perlawanan terhadap arsitektur keuangan global,
kebijakan perdagangan bebas, dan privatisasi, tidak hanya terjadi di
negara-negara Dunia Ketiga. Perlawanan yang lebih keras, jauh sebelum tragedi 11 September, justru
terjadi di Seattle (AS), Praha (Cekoslowakia), dan Genoa (Italia). (hal
111-112)