1. Mengerjakan etnografi itu mirip usaha
membaca (dalam arti ”menafsirkan sebuah bacaan dari”) sebuah manuskrip yang bersifat asing,
samar-samar, penuh elips-elips, ketakkoherenan-ketakkoherenan, perubahan-perubahan
yang mencurigakan, dan komentar-komentar yang tendensius. Akan tetapii
manuskrip itu ditulis tidak dalam kertas-kertas grafik suara yang konvensional,
namun dalam contoh-contoh sementara dari tingkah laku yang tampak.
2. Clifford Geeertz menekankan bahwa
antropolog seharusnya bergeser darii upaya melakukan eksplanasi menjadi upaya
menemukan makna dan yang memandang penting simbol dalam penelitian antropologis.
Jadi konteks sosial sangat penting dalam memahami makna simbol. Geertz
mengusulkan agar antropolog mengalihkan perhatian dari meneliti tanda dan
simbol dalam abstarksi ke penelitian tentang tanda dan simbol dalam habitat
ilmiahnya-dimana manusia melihat, memberi nama, mendengar, dan membuat.
Dari kedua proposisi diatas, penulis memahami bahwa
konstruksii makna tentang simbol budaya sebaiknya dipahami dan ditulis apa
adanya dari sudut pandang masyarakat yang diteliti dan diamati. Tidak ada
kebenaran mutlak dalam antropologi, yang ada adalah konsepsi kultural yang
harus dipahami oleh orang lain (the other) agar tercipta kesalingpengertian
sehingga dapat mengeliminasi adanya konflik yang disebabkan oleh perbedaan
konstruksi makna.
Sebagai contoh : dalam kasus aliran Jama’ah Ahmadiyah di
Indonesia yang dalam hal ini tersubordinasi oleh institusi agama (MUI) sehingga
massa yang
tidak sepaham dengan konstruksi makna kultural dari penganut aliran Jama’ah
Ahmadiyah kemudian merusak atau bahkan mengejar-ngejar para pengikut Jama’ah
Ahmadiyah. Yang lebih ekstrem lagi adalah fatwa MUI yang menyarankan pengikut
aliran Jama’ah Ahmadiyah membentuk agama baru yang menerut penulis hal inilah
sebenarnya yang memicu konflik horisontal. Kalau kita pahami bahwa manusia
adalah utusan atau wakil Tuhan dimuka bumi ini, lalu apa bedanya kita dengan
Nabi (‘N’ besar bukan ‘n’kecil) ? yaa… sama-sama utusan atau wakil Tuhan. Jadi
apa salahnya kalau Mirza Ghulam Ahmad dianggap nabi oleh para pengikutnya ?
inilah kontruksi makna kultural. Menurut penulis, konstruksi makna kultural
adalah hasil konsensus bersama masyarakat pendukung kebudayaan tersebut.
Seandainya dulu masyarakat menyebut roti adalah alas kaki (sandal), maka
penulis yakin masyarakat sekarang juga menyebut roti untuk memaknai sandal
sebagai alas kaki.
Kemudian ketika orang Inggris menyebut hewan berkaki empat,
berbulu, setia pada majikan, mau disuruh apapun, bisa difungsikan sebagai
penjaga rumah, adalah DOG dan orang Indonesia menyebutnya ANJING, orang jawa
menyebutnya ASU, orang Arab menyebutnya KALBU, orang Batak menyebutnya BIANG,
ini adalah sebuah konsep kultural yang sedang berusaha dimaknai oleh
masing-masing masyarakat pendukungnya.
Makanya antropolog sebaiknya memahami apapun itu dari sudut
pandang pelaku kebudayaan yang sedang diteliti atau diamati, agar subyektifitas
peneliti atau pengamat tidak tercampur dalam kontruksi makna konsep kultural
dari masyarakat pendukung kebudayaan tersebut. Antropolog juga tidak boleh
menilai suatu kebudayan itu baik atau tidak. Sebaiknya membiarkan kebudayaan
itu berkembang sesuai dengan tahap pemikiran masyarakat itu sendiri.
Clifford Geertz kemudian menyebut “interpretif” sebagai
salah satu cara untuk memahami konsep kultural dari suatu masyarakat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar