31 Maret 2014

Konstruksi Tubuh dan Kebudayaan



Hannah V. A. James and  Michael D. Petraglia, 2005, Modern Human Origins and the Evolution of Behavior in the Later Pleistocene Record of South Asia, Current Anthropology, Vol. 46, No. S5 (December 2005), pp. S3-S27
Catatan arkeologis dari era Pleistosen Akhir di Asia Selatan memiliki peran yang krusial dalam pemahaman kita terhadap evolusi perilaku manusia modern dan persebaran anatomi manusia di seluruh Dunia Lama. Catatan Pleistosen Akhir di Asia Selatan merangkum dan meletakkan suatu konteks di dalam debat mengenai asal manusia modern. Aspek-aspek pada Asia Selatan mencatat adanya karakter yang umum yang juga tersebar di Dunia Lama, namun Asia Selatan juga menunjukkan suatu fitur adaptif dan pengembangan budaya materialnya sendiri. Lingkungan yang fluktuatif selama Pleistosen Akhir mempengaruhi adaptasi manusia modern dan manusia ‘archaic’ secara anatomi, mempengaruhi ukiran populasi, pergerakan, dan kegunaan inovasi-inovasi kultural. Dengan berdasarkan pada upaya mengungkapkan informasi genetis, arkeologis, dan biogeografis, dapat ditarik suatu hipotesis bahwa Homo Sapien yang terkolonisasi di Asia Selatan merupakan bagian persebaran dari Afrika. Efek dari proses demografis dan arah perubahan kultural merupakan suatu penjelasan bagi kurangnya pertanda “symbolic revolution” akan datangnya manusia yang modern secara anatomis ke anak benua India. Dicontohkan, era Paleolitik Akhir merepresentasikan adanya suatu diversifikasi perilaku adaptif yang dapat ditelusuri dari era Paleolitik Tengah.
Helen M. Leach, 2003, Human Domestication Reconsidered, Current Anthropology Volume 44, Number 3, June 2003
Dalam penggunaan secara ilmiah, domestikasi diartikan sebagai proses dimana manusia mentranformasi binatang buas dan tumbuhan menjadi produk yang berguna melalui pengendalian perkembangbiakannya. Perubahan fisik dan perilaku tersebut telah diidentifikasi sebagai kriteria domestikasi tersebut. Perubahan ini meliputi perubahan morfologis yang terdiri dari rangka tubuh di awal domestikasi Timur Tengah awal, misalnya reduksi ukuran dan kekuatan rangka, penajaman tengkorak dan wajah, dan turunnya ukuran gigi. Perubahan ini pun terjadi pada populasi manusia yang dimulai pada Pleistosen Akhir. Terdapat tekanan seleksi tak sadar (unconscious selection). Paradigma lama mengenai pengendalian manusia terhadap domestikasi melalui seleksi artifisial memiliki makna bahwa terdapat suatu paralelisme pada perubahan tersebut, namun jarang dicatat dan sedikit dijelaskan secara terbuka. Saat ini, hanya dometikasi simbolik dan domestikasi sosial yang diterima bagi Homo Sapiens. Artikel ini mengajukan suatu kasus pembuka bagi domestikasi manusia secara biologis yang didasarkan pada pengaruh lingkungan, mobilitas yang menurun, dan perubahan konsistensi pola makan terkait meningkatnya sedentisme.
Vinayak Eswaran, 2002, A Diffusion Wave out of Africa The Mechanism of the Modern Human Revolution?, Current Anthropology Volume 43, Number 5, December 2002.
Tulisan ini mengajukan bahwa transisi di seluruh dunia pada bentuk manusia secara anatomis disebabkan oleh persebaran difusif dari Afrika – suatu adaptasi kombinasi bersama dengan gen-gen baru – yang membawa suatu keuntungan genetis yang kompleks. Hal ini dimaksudkan bahwa pergerakan keluar dari Afrika bukanlah suatu migrasi, melainkan suatu difusi gelombang (diffusion wave) sebagai suatu ekspansi terus-menerus dari populasi modern, oleh pergerakan kecil secara acak, hibridisasi, dan seleksi alamiah yang menguntungkan genotip modern. Artikel ini mengajukan argumentasi bahwa genotif modern berkembang di Afrika melalui proses keseimbangan yang bergantian dan menyebar karena ini akan lebih menguntungkan secara global. Hal ini ditunjukkan bahwa genotif telah menyebar oleh difusi demik yang arahnya acak, namun hanya berada dalam persilangan dan seleksi yang kuat. Mekanisme ini diinvestigasi menggunakan suatu model kuantitatif yang mengusulkan penjelasan pada petak puzzle genetik, fosil, dan data arkeologis pada asal manusia modern. Data tersebut mengindikasi asimilasi genetik secara signifikan dari populasi manusia kuno kepada manusia modern. Keuntungan morfologis pada fenotip modern – mungkin dengan penekanan mortalitas anak – ditujukan sebagai penyebab dari transisi tersebut. Bukti dari hal tersbut dan revolusi manusia terdahulu menunjukkan bahwa proses keseimbangan-pergantian (the shifting-balance process), sebagaimana diajukan oleh Sewall Wright, merupakan hal yang sangat penting khususnya bagi evolusi manusia, bisa karena populasi manusia memiliki struktur sosial dengan interbreeding  yang rendah yang memungkinkan untuk dilakukannya proses tersebut. Hal ini menjelaskan keunikan evolusi manusia.
Robert Boyd, Peter J. Richerson, dan  Joseph Henrich, 2011, The Cultural Niche: Why Social Learning Is Essential For Human Adaptation, PNAS, June 28, 2011 vol. 108 suppl. 2
Dalam 60.000 tahun terkahir, manusia telah mengekspansi melintasi bumi dan menduduki rentang teritori yang lebih luas dari spesies lain. Kemampuan kita untuk beradaptasi dengan sukses pada begitu banyak tempat tinggal sering dijelaskan sebagai bagian dari kemampuan kognitif manusia. Manusia memiliki otak yang relatif lebih besar dan memiliki kekuatan komputerisasi yang lebih besar daripada hewan lainnya, dan ini memungkinkan kita untuk memperhitungkan bagaimana untuk tinggal di rentang lingkungan yang lebih luas. Mungkin ada keraguan bahwa manusia lebih cerdas daripada organisme lainnya, namun tak satupun dari manusia bisa cukup cerdas untuk bertahan di setiap habitat. Bahkan di masyarakat yang hidup di era terdahulu, orang-orang sangat bergantung pada berbagai jenis peralatan, pengetahuan lokal yang detail, dan tata sosial yang kompleks, dan sering kali tidak paham mengapa peralatan ini, kepercayaan tersebut, dan perilaku-perilaku tertentu telah sedemikian adaptif. Kesuksesan manusia merupakan kontribusi dari kemampuan mengembangkan diri secara unik yang dipelajari dari organisme yang lain. Kapasitas ini memungkinkan manusia untuk mengakumulasi informasi secara gradual lintas generasi dan mengembangkan peralatan yang adaptif, kepercayaan yang adaptif, dan praktek yang adaptif secara lebih baik, yang pada dadsarnya begitu kompleks bagi setiap individu yang diperoleh sepanjang hidupnya.
Leda Cosmides, H. Clark Barrett, dan John Tooby, Adaptive Specializations, Social Exchange, And The Evolution Of Human Intelligence, PNAS,  May 11, 2010, vol. 107, suppl. 2, 9007–9014
Teori papan-tulis-kosong (blank-slate theories) mengenai kecerdasan manusia mengajukan suatu alasan-alasan tertentu yang dibawa oleh tujuan umum penerapan kecerdasan tersebut secara seragam di lintas benua. Suatu pendekatan evolusionis mengisyaratkan berbagai model kecerdasan manusia yang berbeda secara radikal. Tugas tersebut menuntut suatu seleksi terhadap masalah-masalah adaptif yang berbeda bagi strategi penyelasaian masalah yung khusus secara fungsional, terlepas dari peningkatan secara masif kemampuan dalam menyelesaikan masalah problem adaptasi dari masa lalu. Oleh karena perubahan bisa menyusun hanya jika para pihak yang bekerja sama dapat mendeteksi kecurangan, maka dapat disusun suatu hipotesis bahwa nalar manusia dilengkapi dengan sistem kognitif-syaraf yang dikhususkan untuk memahami perubahan dan pertukaran sosial. Manakala performa manusia cukup lemah ketika diminta mendeteksi pelanggaran terhadap aturan-aturan tertentu, maka dapat diprediksi dan ditemukan suatu performa dramatik ketika suatu aturan dikhususkan pada suatu pertukaran dan pelanggaran terkait kecurangan. Sejalan dengan kritik tersebut, ketidakmampuan manusia mendeteksi pelanggaran terhadap aturan pertukaran sosial tidak dapat merefleksikan adanuya mekanisme deteksi kecurangan, namun memperluas cakupan mengenai hal-hal apa saja yang dibolehkan (deontic conditionals). Artikel ini melaporkan suatu pengujian eksperimental yang menyangkal teori tersebut dengan mendemonstrasikan bahwa aturan deontic sebagai suatu kelas, tidak mendatangkan suatu alasan bagi suatu pelanggaran. Artikel ini menunjukkan bahwa sistem deteksi kebohongan berfungsi dengan akurasi yang diragukan, yaitu mendasari pelanggaran terhadap aturan pertukaran sosial hanya ketika tampaknya akan mengungkap kehadiran seseorang yang mungkin menipu. Hal tersebut tidak ditujukan untuk mencari adanya pelanggaran terhadap aturan pertukaran sosial yang tak disengaja, yang tidak menguntungkan bagi si pelanggar, atau ketika situasi dimana melakukan penipuan adalah hal yang sulit.
Thomas D. Holland, Michael J. O’brien, Daniel M. T. Fessler, 2003, On Morning Sickness and the Neolithic Revolution, Current Anthropology, Vol. 44, No. 5 (December 2003), pp. 707-711
Topik tentang nausea atau on morning sickness yang dalam ilmu reproduksi biologi biasa disebut dengan vomiting in pregnancy (NVP), rasa mual pada saat hamil. Kondisi ini pertamakali dilaporkan oleh orang Yunani kira-kira 4000 tahun yang lalu.
Nausea => dari bahasa latin , yang artinya merasa sakit atau mual pada perut, ngilu pada ulu hati yang kadang disertai rasa ingin muntah. Nausea ini juga bisa disebut dengan on morning  sickness  => merujuk pada mual, umumnya pada wanita hamil kondisi ini terjadi pada trimester (tiga bulan) pertama dan berlanjut hingga trimester ketiga.
Nausea ini juga bisa disebabkan karena mabuk perjalanan (motion sickness), terganggunya system keseimbangan dan kestabilan tubuh terhadap ruang yg bisa juga disebut vertigo, mata berkunang-kunang, jalan sempoyongan, yang biasanya disertai rasa ingin muntah yang berlebihan, Migrain, radang lambung, dan keracunan makanan
Dalam artikel  “On Morning Sickness and the Neolithic Revolution” karya Thomas D. Holland and Michael J. O’brien ini menerangkan proses revolusi pada masa Neolithic, periode transisi dari jaman berburu meramu menuju jaman bercocok tanam dan tinggal menetap disuatu tempat tertentu yang menurut data arkeologi terjadi di daerah tropis dan subtropics di barat daya dan asia selatan. Pada masa ini masyarakat sudah membentuk desa atau kota kecil dan sudah mengenal system irigasi atau pengairan. Tanaman yang ditanam tentunya yang kadar karbohidratnya tinggi, seperti kentang di amerika selatan, maizena (sejenis tanaman jagung) di amerika tengah, biji-bijian yang mengandung tepung di amerika tengah,  cereal grains (mungkin sejenis gandum) di Timur Dekat (mungkin timur tengah, yang meliputi Arab, Turki, dan Afrika Barat), dan beras di Asia Selatan.
Wanita hamil mengalami penyesuaian kultural, seperti wanita hamil di Murngin berpantang makan daging dan ikan selama kehamilan. Di Tamil wanita hamil di bulan pertama cenderung mual sampai muntah dan disarankan untuk mengurangi asupan protein. Wanita hamil yang mengalami mual pada trimester pertama pada masa ini justru dilarang mengkonsumsi daging yang mengandung yang banyak protein yang berperan besar dalam membantu pertumbuhan janin yang dikandungnya.
Holland dan O’Brien berargumen bahwa rasa sakit pada wanita hamil bisa diatasi dengan mengkonsumsi tanaman pangan hasil budidaya. Dan saat ini UNEP (United Nation on Environment Proram) menyarankan untuk menjadi vegetarian dengan mengurangi asupan protein hewani dalam rangka adaptasi menghadapi perubahan iklim.
Amanda Blackburn & Christopher J. Knüsel, 2006, Hand Dominance and Bilateral Asymmetry of the Epicondylar Breadth of the Humerus: A Test in a Living Sample, Current Anthropology, Vol. 47, No. 2 (April 2006), pp. 377-382
Dalam mempertimbangkan asimetri bilateral dari lebarnya epicondylar pada distal humerus dan hubungannya terhadap dominasi tangan, maka dilakukan analisis matrik terhadap humerus terhadap populasi yang tinggal di Ontario, Canada, dan populasi Anglo-Saxon terakhir dari Raunds Furnells, Northamptonshire (UK). Pengujian terhadap kecenderungan asimetris dewasa mengungkapkan bahwa pada variabel tertentu – antara lain usia, jenis kelamin, bisa sangat mempengaruhi – menunjukkan adanya faktor-faktor biomekanis yang menjadi hal penting utama dari ekspresi karakter tersebut. Jenis studi ini menyediakan suatu pandangan mengenai bagaimana asimetris merupakan ekspresi di suatu populasi manusia modern sebagaimana juga menyediakan suatu makna tertentu yang memonitor perubahan-perubahan di masa lalu. Meskipun jarak perilaku antara manusia yang hidup saat ini cenderung dekat dengan mereka yang hidup pada dekade-dekade terakhir, namun terdapat dua karakteristik yang tampak berbeda di antara sesama manusia: bahasa dan ke-tangan-an (handedness). Keduanya terkait dengan lateralisasi fungsi otak dan tampak membedakan manusa dari semua spesies lain (Corballis 1991;Steele 2000a). Dari perspektif arkeologis, terdapat suatu kemungkinan yang umum untuk mendeteksi bahasa hanya melali dokumen tertulis. Terdapat latar yang sangat jelas bahwa sejumlah bahasa tidak bisa diperhitungkan karena tidak adanya sistem tulisan yang formal yang dimilikinya. Demikian juga, ke-tangan-an (handedness) juga merupakan karakter yang sukar untuk dipahami. Dominasi tungkai atas menunjukkan bahwa sisa osetologikal – sebagaimana analisis dalam tulisan ini terhadap sejumlah sampel manusia modern – membantu pengembangan potensi tangan dari dimensi humerus.
Shannen L. Robson, 2004, Breast Milk, Diet, and Large Human Brains, Current Anthropology, Vol. 45, No. 3 (June 2004), pp. 419-425.
Manusia memiliki ukuran otak yang lebih luas daripada yang dibutuhkan bagi ukuran tubuhnya, dan ini ditujukan supaya produk pangan dari hewan pada pola makan manusia memungkinkan manusia mendapatkan nutrisi bagi pengembangan otak, yang tak tersedia bagi spesies primata anthropoid. Otak manusia berkembang secara cepat sepanjang tahun pertama setelah kelahiran, ketika bayi sangat tergantung pada ASI, dan menunjukkan bahwa ASI memiliki kandungan biokimia yang dibutuhkan bagi pengembangan otak, yang disebut sebagai LC-PUFAs AA  dan DHA. Namun demikian, berbagai pembuktian menunjukkan bahwa tidak terdapat indikasi bahwa ASI tersebut berbeda dengan susu yang dihasilkan primata lainnya. Terdapat berbagai variasi yang luas pada pola makan maternal, dan itu hanya memiliki dampak kecil terhadap kualitas ASI. Para ibu yang kekurangan asupan LC-PUFAs masih bisa memproduksi AA dan DHA pada ASI-nya. Bayi yang mencerna sejumlah LC-PUFA sebagai suplemen, memiliki level sirkulasi yang lebih tinggi, namun tidak mengembangkan ukuran otak menjadi lebih luas. Sementara itu, bayi yang kekurangan LC-PUFA tetap dapat berkembang secara normal. Baik perbandingan ASI lintas spesies, maupun perbandingan pola makan ibu lintas spesies, kesemuanya tidak dapat mendukung hipotesis bahwa pola makan manusia dapat mendukung perkembangan ukuran otak bayi manusia.
Elena Garcia Guixé, Michael P. Richards, M. Eulàlia Subirà, 2006, Palaeodiets of Humans and Fauna at the Spanish Mesolithic Site of El Collado, Current Anthropology, Vol. 47, No. 3 (June 2006), pp. 549-557
Sebagain besar riset terdahulu yang bertema cukup langka di Eropa Mesolitik dilakukan di Eropa bagian utara, dimana terdapat bukti yang jelas adanya adaptasi terhadap kehidupan laut, khususnya pada Mesolitik Akhir. Hanya terdapat sedikit data mengenai Eropa bagian selatan secara keseluruhan, dan data yang disajikan dalam artikel ini memiliki kesamaan dengan apa yang telah disajikan mengenai manusia Mesolitik di utara Eropa yang menunjukkan adanya pola makan secara musiman sebagai adaptasi terhadap pangan bersumber dari laut pada periode tertentu. dengan adanya data yang lebih banyak mengenai adaptasi pola makan, maka akan lebih baik dalam mengkomparasikan pola makan masyarakat di utara dan selatan Eropa di era Palaeolithic, Mesolithic, dan Neo-lithic.
Dana Walrath, 2003, Rethinking Pelvic Typologies and the Human Birth Mechanism, Current Anthropology, Vol. 44, No. 1 (February 2003), pp. 5-31
Rekonstruksi paleoantropologis pada kelahiran bayi di genus Homo secara khusus terletak pada suatu model yang termasuk dalam evolusi suatu mekanisme kelahiran manusia yang ada di dalam jenis yang tunggal (monotypic). Terdapat dua jenis karakter  mengenai mekanisme atau jejak yang ditempuh oleh calon bayi (fetus) ketika melalui liang peranakan: rotasi fetus dan kelahiran yang berseberangan dengan sang ibu. Evolusi dari kedua fitur ini dikatakan untuk memfasilitasi kelahiran melalui pinggul bipedal, namun juga sebagai bukti adanya kesulitan pada kelahiran manusia itu relatif dibandingkan pada primata ataupun nenek-moyang yang memiliki ukuran otak yang lebih kecil. Sebaliknya, posisi mekanisme kelahiran sangat bervariasi saat ini dan kemungkinan juga terjadi di masa lalu. Perhatian terhadap mekanisme kelahiran yang monotipe telah dibawa pada perdebatan paleoantropologis dari cara berfikir tipologis pada praktek dan teks biomedis di Eropa dan Amerika. Sejarah deksripsi anatomis dari jenis pinggul dan keterkaitannya dengan mekanisme kelahiran menunjukkan suatu kecenderungan kepada konsep mekanisme kelahiran normal yang tunggal pada praktek biomedis. Artikel ini membahas bahwa tipologi pinggul yang didefinisikan secara biomedis menyebabkan suatu definisi yang statis pada variasi morfologis pinggul manusia, dan pada gilirannya, hal ini menciptakan definisi yang statis terhadap proses kelahiran manusia sebagaimana yang dinyatakan dalam model paleoantropologis.
Beverly I. Strassmann, 2011, Cooperation And Competition In A Cliff-Dwelling People, PNAS, June 28, 2011, vol. 108, suppl. 2, pp.10894–10901
Sebagai organisme yang berkembangbiak secara kooperatif, individu manusia dewasa terkadang akan menunda reproduksinya, dan bertindak sebagai penolong bagi orang terdekat yang sedang membesarkan anak. Hal ini dimaksudkan bahwa manusia juga merupakan spesies berkembang biak yang kooperatif karena anak perempuan, nenek dan kerabat lain atau non-kerabat mungkin akan menyediakan pengasuhan yang signifikan. Melalui studi terhadap anak-anak yang tumbuh dan bertahan di Dogon, Mali, artikel ini menunjukkan bahwa teori perkembangbiakan kooperatif sangat lemah diterapkan pada populasi dimana terdapat keluarga yang dinamis. Alih-alih berkerja sama, saudara kandung justru bersaing mendapatkan sumber daya, menciptakan pertukaran di antara sejumlah saudara kandung seibu, baik dalam hal pertumbuhan maupun mempertahankan diri. Tidak dibutuhkan suatu desa untuk membesarkan anak, karena anak-anak dibesarkan di keluarga inti sebagimana juga di keluarga luas. Salah satu perhatian yang penting yaitu derajat poligini, yang menciptakan banyak konflik terkait keterhubungan genetis yang asimetris. Resiko kematian yang lebih tinggi dan rata-rata pertumbuhan yang lambat terjadi pada keluarga poligini dibandingkan keluarga yang monogini. Resiko kematian anak-anak Dogon dua kali lipat lebih banyak jika tinggal di ayah nenek yng masih hidup dibandingkan yang telah mati. Temuan ini merefleksikan kelemahan nenek yang lebih tua (yang menjadi konsumen sepenuhnya) dibandingkan menjadi produser penuh di masyarakat yang miskin sumberdaya. Para ibu yang kewalahan mengurus anak, tidak bisa digantikan oleh anggota kerabat atau non kerabat lainnya. Ide berkembang biak secara kooperatif dari studi organisme hewan sangat lemah dalam menjelaskan kompleksitas dan keragaman interaksi manusia.
Carlos A. Driscoll, David W. Macdonald, dan Stephen J. O’Brien, 2009, From Wild Animals To Domestic Pets, An Evolutionary View Of Domestication, PNAS, June 16, 2009 vol. 106 suppl. 1, pp.9971–9978
Seleksi artifisial / buatan adalah seleksi dari berbagai variasi keuntungan alamiah bagi manusia dan sebagai mekanisme oleh pengembangan spesies domestik. Sebagian besar domestikasi memiliki asal pada suatu pusat sejarah dari domestikasi binatang ternak. Dua pengecualian utama adalah kucing dan anjing. Domestikasi serigala diinisiasi pada akhir era Mesolitik ketika manusia masih merupakan makhluk nomaden yang berburu dan meramu. Serigala tersebut kurang takut kepada manusia, namun mereka kerap mengais-ngais tenda kelompok manusia nomaden dan kemudian manusia mengembangkan fungsinya. Mula-mula sebagai penjaga apabila ada binatang lain atau kelompok lain yang mendekat, dan selanjutnya sebagai bagian dari pemburu atau sebagai bagian dari fungsi-fungsi tertentu melalui seleksi artifisial. Kucing domestik pertama terbatas pada pemanfaatan dan inisiasi domestifikasi mereka sejalan dengan mulai menetapkan awal budi daya pertanian di era Neolitik pada Timur Dekat. Domestikasi kucing liar terjadi melalui suatu proses seleksi diri dimana terdapat penyusunan perilaku isolasi produktif dalam lingkungan urban. Kucing liar Eurasian merupakan domestikasi inisiatif dan evolusi mereka menjadi binatang peliharaan  dimulai dari suatu proses seleksi yang alamiah, dibandingkan seleksi artifisial, dari waktu ke waktu.
Francisco J. Ayala, 2010, The difference of being human: Morality, PNAS, May 11, 2010, vol. 107, suppl. 2, pp. 9015–9022
Dalam buku The Descent of Man, dan Selection in Relation to Sex, yang dipublikasi pada 1871, Charles Darwin menulis : “saya sepenuhnya ... mengajukan kepada penilaian para penulis yang menyatakan bahwa seluruh perbedaan antara manusia dan hewan yang lebih rendah adalah moral atau kesadaran sebagai sesuatu yang sangat utama”. Artikel ini mengajukan pertanyaan mengenai dalam hal apa moralitas adalah sesuatu yang menentukan secara kultural maupun secara biologis. Pertanyaan mengenai apakah moralitas menentukan secara biologis merujuk pada kapasitas etika atau norma moral yang diterima manusia sebagi panduan tindakan mereka. Artikel ini menyatakan bahwa kapasitas bagi etika adalah atribusi yang diperlukan manusia, yang mana tata moral adalah produk dari evolusi kultural. Manusia memiliki rasa moral karena bentukan biologis yang menentukan kehadiran 3 hal penting bagi perilaku etis, yaitu (1) kemampuan antisipasi terhadap konsekuensi dari aksinya sendiri, (2) kemampuan untuk menilai, (3) kemampuan memilih alternatif di antara sekian banyak aksi. Perilaku etis hadir melalui evolusi, bukan karena ini adaptif, namun sebagai konsekuensi dari kemampuan intelektual, dimana suatu atribut tersebut secara langsung dipromosikan oleh seleksi alamiah. Dengan demikian, bangunan moralitas sebagai sebagai exaptation, bukan sebagai adaptation. Aturan moral, bagaimanapun, adalah hasil dari evolusi budaya, yang berasal dari keragaman norma budaya diantara populasi dan evolusi dari waktu ke waktu.
John Smalley and Michael Blake, 2003, Sweet Beginnings: Stalk Sugar and the Domestication of Maize, Current Anthropology, Vol. 44, No. 5 (December 2003), pp. 675-703
Artikel ini mengelaborasi saran yang diajukan oleh Hugh H. Iltis bahwa nenek moyang maizena (tepung jagung) pada awalnya didomestikasi bukan untuk panennya namun untuk rasa manisnya. Artikel ini dimaksudkan bahwa sepanjang periode awal domestifikasi maizena, batang jagung telah menjadi sumber gula bagi banyak kegunaan, termasuk membuat minuman beralkohol, dan keutamaan sosial dari produksi alkohol adalah perluasan yang sangat cepat. Berbagai jalur pembuktian telah diuji untuk mengajukan suatu hipotesis, dan topik bagi penelitian arkeologis yang lebih jauh akan berkontribusi signifikan terhadap upaya tersebut.
Bjoern H. Menze dan Jason A. Ur, 2012, Mapping patterns of long-term settlement in Northern Mesopotamia at a large scale, E778–E787 PNAS Published online March 19, 2012
Bentang alam daerah Timur Dekat menunjukkan dua hal, baik pemukiman awal dan perjalanan panjang dari sistem pemukiman. Gundukan merupakan karakteristik bangunan dari pemukiman, dihasilkan dari aktivitas pemukiman sejak ribuan tahun pada lokasi yang berbeda. Sejauh ini, fitur yang didefinsikan dari pemukiman kuno tidak mendapat cukup perhatian, ataupun sebagai subjek evaluasi sistematik. Artikel ini mengajukan suatu pendekatan penginderaan jarak jauh (remote sensing approach) untuk memetakan secara komprehensif pola pemukiman manusa dalam skala yang luas dan membangun catatan arkeologis yang lebih luas untuk bentang alam di Mesopotamia. Memetakan kira-kira 14,000 situs pemukiman yang berkembang selama 8 milenium, pada resolusi 15m di area 23,000 kilometer persegi di timur laut Syiria. Untuk memetakan tempat yang berupa gundukan maupun cerukan, artikel ini mengembangkan suatu strategi untuk mengidentifikasi jejak manusia pada rangkaian waktu pada gambar satelit yang multispektral dan mengukur volume ukuran pemukiman melalui suatu model elevasi digital. Dengan menggunakan volume ini sebagai penanda adanya pendudukan yang berkelanjutan, artikel ini menunjukkan adanya suartu ketergantungan pada daya tarik suatu lokasi berdasarkan ketersediaan air, juga hubungan yang kuat antara jaringan pertukaran yang ditunjukkan dari catatan dan rute antar lokasi sejak milenium sebelum Masehi sampai saat ini. Penulis mempercayai bahwa sangat dimungkinkan untuk membangun suatu peta pemukiman penduduk di sepanjang jalur aliran sungai di utara Mesopotamia, dan volume suatu situs merupakan kuantitas kunci untuk membuka kecenderungan jangka panjang pada aktivitas pemukiman dari catatan tersebut.

20 Maret 2014

KETHOPRAK LESUNG SASTRA BUDAYA: Media Alternatif Penyampai Aspirasi


KETHOPRAK LESUNG SASTRA BUDAYA
Media Alternatif Penyampai Aspirasi

Oleh:
Muhammad Syaiful Rohman
10/306973/PSA/02293

manusia tidak hanya dapat menggagas, melainkan juga dapat mengekspresikan gagasannya. Manusia tidak mengalami kesulitan mengekspresikan gagasannya, dan manusia tidak dapat tidak mengekspresikan gagasannya. Apabila tidak ada pengekspresian gagasan maka tidak mungkin terjadi hubungan antarmanusia. Bidang-bidang kehidupan manusia seperti ekonomi , sosial politik, cinta dan lain-lain, semuanya memerlukan ekspresi. Manusia dapat hidup hanya dengan mengeskpresikan diri. Manusia dalam mengekspresikan diri itu terdapat ekspresi khusus yang disebut kesenian. Kekhususan itu karena dengan kesenian manusia mengekspresikan gagasan estetik atau pengalaman estetik. Kesenian merupakan penjelmaan pengalaman estetik. “ (Driyakara, 1980)
  1. PENDAHULUAN
Untuk mengubah sistem menjadi lebih baik, kita harus masuk pada sistem itu sendiri. Begitulah kira-kira yang ada dalam pikiran saya saat itu, ketika saya kesulitan mengakses fasilitas kampus seperti misalnya menggunakan panggung terbuka yang terletak diantara gedung A dan gedung B maupun auditorium Fakultas Ilmu Budaya UGM untuk mementaskan pertunjukkan Kethoprak Lesung Sastra Budaya. Jangankan menggunakan fasilitas kampus, dana kegiatan saja tidak pernah dicairkan dengan alasan dari dekanat bahwa kegiatan ini tidak masuk rencana kegiatan dan anggaran tahunan (RKAT) fakultas. Yach.....mau bagaimana lagi?? The show must go on,,begitu tekad saya untuk menggelar pementasan kethoprak ini demi sebuah idealisme untuk melestarikan warisan budaya leluhur dan tanggung jawab moral kepada mahasiswa, ini karena saya dipercaya sebagai Lurah Kethoprak Lesung Sastra Budaya yang juga merupakan salah satu divisi dalam Badan Semi Otonom Sastra Budaya.
Kondisi ini harus berubah, gumam saya dalam hati. Saya harus bisa mengubah keadaan ini. Ada ataupun tidak ada dukungan dana dari fakultas, cita-cita untuk melestarikan warisan budaya leluhur seperti kethoprak lesung ini harus tetap dijalankan karena bentuk kesenian tradisional ini sudah jarang ditemui di Daerah Istimewa Yogyakarta apalagi di dunia kampus seperti di Fakultas Ilmu Budaya ini, meski pada setiap kali pementasan harus merogoh uang saku saya sendiri yang sebenarnya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup pribadi setiap bulannya. Akhirnya pada bulan April tahun 2006, saya ikut mencalonkan diri sebagai salah satu kandidat presiden Lembaga Eksekutif Mahasiswa. Saya memang berasal dari jurusan Antropologi Budaya, tapi saya maju dengan dukungan penuh dari BSO Saskine (badan semi otonom sastra kine, komunitas mahasiswa penyuka film) sebagai mesin politik utama dan dukungan tertulis dari 15 lembaga kemahasiswaan di FIB UGM.
Pada saat masa kampanye, saya dengan percaya diri melakukan kampanye dalam bentuk penyebaran leaflet maupun penempelan pamflet di tempat-tempat strategis, dan pidato di Kantin Sastra maupun di Bonbin (warung makan yang terkenal di UGM karena selain masakannya yang enak, harganya pun cocok untuk ukuran saku mahasiswa). Dengan berbekal sebuah gitar di tangan kanan, dan sebuah pengeras suara (TOA) di pundak kiri yang merupakan bentuk dukungan dari keluarga mahasiswa antropologi, dan dengan mengenakan kostum ala Panglima Besar Jenderal Soedirman sebagai salah satu bentuk simbol perlawanan yang diinspirasikan dari unen-unen Jawa “ajining diri ana ing lathi, ajining raga ana ing busana” saya berkampanye di titik-titik yang telah ditentukan oleh KPU untuk menarik dukungan massa dari berbagai kelompok mahasiswa.
Pada penghitungan suara di hari terakhir pencoblosan pemilihan raya mahasiswa, saya memperoleh 389 surat suara sah dengan selisih 11 surat suara dari kandidat nomor urut pertama yang maju mencalonkan diri lewat Keluarga Mahasiswa Sastra Nusantara, dan selisih sangat jauh dari kandidat lain nomor urut dua dan satu-satunya kandidat perempuan yang mewakili jurusan Sastra Perancis dengan perolehan suara sebanyak 59 surat suara. Dengan ditetapkannya hasil penghitungan surat suara oleh KPU, maka akhirnya saya ditetapkan sebagai Presiden Lembaga Eksekutif Mahasiswa periode kepemimpinan tahun 2006-2007.
  1. SENI DAN RUANG PUBLIK: sebuah kerangka konseptual tentang pengungkapan rasa marah, sedih, senang, dan emosi-emosi lain dalam arena politik
Pertanyaan tentang guna dan fungsi memang dapat meresahkan. Ketika kesenian dihadapkan pada pada sesuatu yang praktis pragmatis baik bagi seniman, maupun bagi masyarakat. Tidak semua tentunya dapat dikejar dan diformulasikan tentang fungsi praktisnya. Sebab pada ‘sesuatu’ (karya seni) itu, yang ditawarkan adalah ‘nilai’. Lebih dari itu, terdapat sesuatu hal yang subtil ataupun yang mencerahkan ataupun yang membebaskan.
Jika seni merupakan proses dialektik yaitu manusia di suatu pihak dan realitas di pihak lain, maka dialektik itu tidak akan kunjung habis. Hasil seni tidaklah pernah sempurna, meskipun ia selalu ingin demikian. Terjadi tegangan yang terus menerus, setidaknya selama proses kreasi, antara realitas dengan pemaknaan, antara diri sebagai kreator dan faktor-faktor objektif yang mendorong dan mempengaruhi kreasinya. Termasuk menyangkut masalah fungsi atau guna. Meskipun pada kenyataannya ketika proses kreasi berlangsung, tendensi-tendensi praktis pragmatis itu dapat diabaikan atau terabaikan.
Derasnya arus informasi dan cepatnya komunikasi antarbudaya mengakibatkan revolusi kebudayaan. Menurut Tolstoy, seni adalah kegiatan manusia yang dilakukan secara sadar dengan perantaraan tanda-tanda lahiriah tertentu untuk menyampaikan perasaan-perasaan yang telah dihayatinya kepada orang lain sehingga mereka kejangkitan perasaan ini dan juga mengalaminya. Dengan kata lain seni sebagai komunikasi dari pencipta kepada orang lain.
Temuan baru di bidang teknologi komunikasi yang canggih dengan media elektronika serta satelit memberikan kemudahan dan percepatan penyebaran karya seni dan budaya baru dari suatu tempat ke seluruh pelosok dunia dan menjadikan transformasi budaya yang sangat pesat, sehingga mempertinggi dan memperbaiki derajat kemanusiaan.
Bagi negara-negara industri yang telah maju industrialisasinya, seni dan budaya telah berkembang dengan pesat. Di sana nilai seni dan budaya serta pelayanannya tidak hanya semata-mata dianggap sebagai komoditi yang dapat dipasarkan, tetapi lebih dari itu. Nilai seni dan budaya dianggap sebagai sumber gagasan dari seseorang atau sekelompok masyarakat dalam rangka menghasilkan karya seni dan budaya yang bermutu dan beragam yang mampu bersaing dengan karya seni dan budaya dalam negeri maupun luar negeri. Seperti diungkapkan Dewanto (1996) bahwa terjadi hubungan timbal balik antara keragaman seni yang dihasilkan oleh para seniman dengan industri seni yang bersifat monokultur. Keragaman produk seni bukan keinginan dan usaha subjektif seniman yang didasarkan pada kemerdekaan kreatif dan keunikan ciptaan pribadi, tetapi atas permintaan konsumen kerena kemajemukan pasar yang harus diobati dengan produk-produk seni baru yang beraneka ragam.
Bagi Indonesia yang sedang membangun bangsanya diperlukan persyaratan penting yaitu keterbukaan masyarakat dan bangsa untuk menghadapi perubahan-perubahan. Keterbukaan bukan berarti menerima atau mengadopsi bagitu saja nilai-nilai baru yang datang dari luar, melainkan suatu penerimaan yang selektif. Keterbukaan merupakan persyaratan bagi pembangunan dan kemajuan. sikap keterbukaan adalah kesediaan untuk menerima informasi, gagasan dan nilai baru yang konstruktif.
Ruang publik ditandai oleh tiga hal yaitu responsif, demokratis dan bermakna. Responsif dalam arti ruang publik harus dapat digunakan untuk berbagai kegiatan dan kepentingan luas. Sementara demokratis berarti ruang publik seharusnya dapat digunakan oleh masyarakat umum dari berbagai latar belakang sosial, ekonomi dan budaya serta aksesibel bagi berbagai kondisi fisik manusia. Dan terakhir bermakna yang berarti ruang publik harus memiliki tautan antara manusia, ruang, dunia luas, dan konteks sosial.
Dengan karakteristik ruang publik sebagai tempat interaksi warga masyarakat, tidak diragukan lagi arti pentingnya dalam menjaga dan meningkatkan kualitas kapital sosial. Namun sayangnya, arti penting keberadaan ruang-ruang publik tersebut di Indonesia lama kelamaan diabaikan oleh pembuat dan pelaksana kebijakan tata ruang wilayah sehingga ruang yang sangat penting ini lama-kelamaan semakin berkurang. Ruang-ruang publik tersebut yang selama ini menjadi tempat warga melakukan interaksi, baik sosial, politik maupun kebudayaan tanpa dipungut biaya, seperti lapangan olah raga, taman kota, arena wisata, arena kesenian, dan lain sebagainya lama-kelamaan menghilang digantikan oleh mall, pusat-pusat perbelanjaan, ruko-ruko dan ruang-ruang bersifat privat lainnya.
Selanjutnya adalah pandangan Gunnar Myrdal, seorang ahli ekonomi yang paling serius dalam mengkaji akar psikokultural dari perkembangan ekonomi, khususnya dalam bukunya yang 3 jilid, Asian Drama (1968). Bagi Myrdal, faktor-faktor psikokultural tidak hanya melahirkan perilaku entrepreneurial, tapi juga memasuki, membentuk, dan mendominasi dimensi politik, ekonomi, sosial, dll, dari seluruh sistem nasional. Myrdal menyesalkan kurangnya perhatian dan penelitian antropologi, sosiologi, dan psikologi terhadap faktor-faktor psikokultural ini. Hal ini mungkin disebabkan karena kesulitan dalam menangkap faktor tersebut dalam analisis yang sistematik dan kwantitatif seperti yang biasanya dilakukan orang terhadap faktor-faktor ekonomi.
Myrdal melihat pola-pola ideal dalam proses menuju ke masyarakat modern, seperti rasionalitas, persamaan sosial dan ekonomi, dan demokrasi politik merupakan hal yang asing dalam kebanyakan masyarakat negara terbelakang, khususnya negara-negara di Asia Selatan. Semua pola ideal ini datang dari luar.
Pada umumnya Orang Asia Selatan, sebagaimana yang dilihat oleh Myrdal, lebih mementingkan hal-hal spiritual daripada hal-hal material dibandingkan dengan orang Barat. Mereka lebih memikirkan dunia baka, tidak peduli pada diri sendiri, acuh terhadap kemakmuran dan kenikmatan hidup material. Mereka memandang kemiskinan dengan hati yang lapang, bahkan memandang positif sikap seperti itu1. Kekuatan intelektual mereka terletak pada intuisi ketimbang reason dan hard calculation. Hal yang ideal bagi bangsa Asia Selatan itu adalah menarik diri dari dunia nyata ini. Mereka tidak suka prinsip-prinsip hukum yang definitif. Konflik cenderung diselesaikan dengan cara mencari pertemuan pendapat bersama (dalam bahasa Indonesia populer disebut cara “perdamaian”) ketimbang melalui prosedur hukum formal.
Sementara itu sikap bermurah hati dan penuh toleran yang sering disebut sebagai ciri-ciri menonjol masyarakat Asia Selatan, khususnya India, ternyata bertentangan dengan kenyataan yang berlaku. Dalam kenyataan, para pengamat justru melihat suasana intoleran dan kecongkakan pada masyarakat India, yang pada gilirannya telah melahirkan perilaku kekerasan antar kelas/kasta dan antar golongan agama. Sikap yang sangat tidak toleran terhadap manusia lain lahir dan dibina oleh sistem kasta dan kesombongan golongan berpendidikan tinggi terhadap kelas bawah. Keadaan masyarakat yang penuh dengan sikap dan pandangan yang seperti ini jelas tidak kondusif untuk pembangunan ekonomi.
Banyak lagi butir-butir yang diberikan oleh Myrdal tentang faktor-faktor psikokultural, dan juga faktor-faktor sosial, yang menjadi ciri-ciri dari masyarakat terbelakang di Asia Selatan ini. Bagaimanapun Myrdal percaya bahwa kondisi psikokultural dan sosial ini dapat diubah melalui intervensi dari luar. Sifat ini tidak permanen dan tidak diturunkan melalui darah. Jadi kalau sebuah pemerintah ingin memajukan bangsanya, pemerintah tersebut harus terlebih dahulu menaruh perhatian terhadap usaha-usaha perubahan pada aspek psikokultural dan aspek sosial.
Selanjutnya adalah Frederick George Bailey, seorang ahli antropologi Inggris, mengatakan bahwa , nilai-nilai dan kategori-kategori adalah aspek kultural, dan aspek ini terletak di bawah permukaan aturan-aturan permainan, di balik strategi-strategi untuk meraih reputasi baik. Nilai-nilai dan kategori-kategori tersimpan di dalam tanda-tanda yang dinyatakan dalam interaksi politis. Orang menafsirkan tanda-tanda tersebut untuk mencapai pengertian tentang konsep-konsep dan kategori-kategori yang dikandung oleh tanda-tanda tersebut. Namun demikian, sistem simbol ini bersifat laconic (hemat kata, padat dan singkat), sehingga memberikan kemungkinan untuk terjadinya manipulasi dan manuver. Hubungan antara tanda (atau signal) dan pengertian yang dikandungnya adalah satu penyederhanaan kasar. Dan penggunaan secara taktis terhadap tanda-tanda ini untuk menguasai situasi, untuk memperoleh teman dan untuk mempengaruhi orang, melahirkan interaksi politis yang kompleks. Jadi kekuasaan, menurut Bailey, adalah kemampuan untuk membujuk, menekan, atau mengajak orang lain agar mempunyai definisi yang sama dengan kita dalam melihat satu situasi, dan kemudian berdasarkan atas definisi yang sama itu mengambil tindakan yang sama pula dalam menghadapi situasi tersebut.
Dalam buku The Tactical Uses of Passion (1983), Bailey memperlihatkan bahwa meskipun nalar mempunyai peranan, namun dalam kenyataannya tindakan mempertunjukkan emosi khususnya kemarahan dan tindakan menggunakan retorika adalah lebih berhasil dalam seni membujuk, meyakinkan, dan memaksa orang lain untuk menyetujui pendapat kita dan bertindak sesuai dengan kemauan kita. Jadi, kata Bailey, dalam kompetisi untuk merebut kekuasaan di arena birokrasi (menguasai pendapat orang lain), mereka yang tahu kapan dan bagaimana cara menembus tutup luar dari sisi politis yang “public” (terbuka) akan memenangkan kompetisi, dan dalam hal ini penggunaan emosi kemarahan adalah satu strategi yang efektif dalam usaha penetrasi tersebut.
  1. KETHOPRAK LESUNG SASTRA BUDAYA: Sebagai Media Alternatif Penyalur Aspirasi
Ide penyaluran aspirasi melalui pementasan kethoprak ini berawal dari kegelisahan kawan-kawan mahasiswa FIB UGM yang merasa ditipu mentah-mentah oleh system pendidikan di Indonesia utamanya di Universitas Gadjah Mada. System pendidikan yang menuntut kehadiran di kelas minimal 75% ini secara tidak langsung justru mematikan potensi non-akademik yang dimiliki mahasiswa. Selain masalah system pendidikan, mahasiswa sebagai civitas akademika terbesar di UGM merasa hanya dijadikan “obyek”, dan bukan “subyek” pendidikan. Dengan hanya menjadi “obyek” pendidikan, mahasiswa merasa hanya menjadi “sapi perahan” untuk menambah pamasukan anggaran di UGM tanpa tahu untuk apa saja sebenarnya SPP, BOP (biaya operasional pendidikan), dan SPMA (sumbangan peningkatan mutu akademik) yang dibayarkan setiap semester. Mahasiswa menuntut untuk dilibatkan dalam setiap proses pengambilan kebijakan di UGM yang menyangkut kurikulum pendidikan dan kegiatan kemahasiswaan.
Ketidakpuasan mahasiswa itu sedikit menimbulkan gejolak. Sebagian kawan-kawan yang tergabung dalam organisasi ekstra kampus seperti HMI, GMNI, KAMMI, PMII mengajak demonstrasi besar-besaran. Salah satu target aksi adalah menekan kebijakan dengan cara melakukan sabotase dan bahkan akan melakukan aksi yang lebih parah, yaitu merusak symbol akademik atau menurunkan lambang UGM. Dalam menyiapkan aksinya ini, kawan-kawan mahasiswa bahkan siap bentrok dengan SKK (satuan keamanan kampus) yang saat itu dipimpin oleh Kombes (Purn) Dida, konon kawan akrab Sofyan Effendi, rector UGM periode 2002 – 2007.
Rupanya rencana aksi kawan-kawan ini didengar oleh kawan-kawan yang tergabung dalam Badan Semi Otonom (BSO) Sastra Budaya yang memiliki Kethoprak Lesung sebagai salah satu divisinya. Setelah diskusi panjang dengan Lembaga Eksekutif Mahasiswa, kebetulan saya saat itu menjabat sebagai presiden mahasiswa, berencana mengubah hasrat destruktif mahasiswa menjadi sesuatu yang layak dipertimbangkan, yaitu menggunakan jalan yang lebih santun, mementaskan sebuah pagelaran kethoprak yang mengundang rector dan dekan se UGM.
Ide lakon “Gadjah Mada Kecu” ini terinspirasi dari peristiwa perang bubat yang menurunkan wibawa Majapahit sebagai imperium terbesar masa itu. Gadjah Mada karir politiknya mulai merosot akibat Perang Bubat (1357). Dalam Kidung Sunda diceritakan bahwa hal ini bermula pada saat Prabu Hayam Wuruk hendak mengangkat Dyah Pitaloka Ratna Citraresmi putri Maharaja Linggabuana raja besar Tatar Sunda sebagai permaisuri, sedangkan Patih Gajah Mada yang menginginkan Sunda untuk takluk, memaksa Dyah Pitaloka sebagai persembahan untuk pengakuan atas kekuasaan Majapahit. Akibat penolakan itu, terjadilah pertempuran yang tidak seimbang antara pasukan Majapahit dan rombongan Sunda di Bubat. Dyah Pitaloka sendiri bunuh diri setelah ayahanda beserta seluruh rombongannya gugur dalam pertempuran.
Akibat peristiwa itu, Patih Gajah Mada dinonaktifkan dari jabatannya dan ia diberi pesanggrahan “Madakaripura” di Tongas, Probolinggo. Namun pada 1359, Gajah Mada diangkat kembali sebagai patih, hanya saja ia memerintah dari Madakaripura. ( Dari Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia )
Naskah Kethoprak “Gadjah Mada Kecu” yang pernah di pentaskan di Fakultas Ilmu Budaya UGM dalam rangka memperingati Dies Natalis FIB tahun 2006 ini sempat dipentaskan dua kali. Berikut sepenggal kisahnya:
Alkisah ada seorang pemuda yang bernama Gadjah Mada dan Hayam Wuruk. Gadjah Mada adalah seorang yatim piatu dan Hayam Wuruk adalah sahabat dekatnya. Hayam Wuruk mempunyai berbagai sifat yang bagus yang kelak akan menjadi raja. Mereka sering bermain dan belajar bersama. Pada suatu hari mereka pulang dari menuntut ilmu di padepokan (UGM) yang kelak menghasilkan orang-orang yang memegang jabatan penting di negara ini. Dari pembicaraan mereka akhirnya Hayam Wuruk berpikiran untuk memberikan sebidang tanah untuk mendirikan sebuah padepokan agar digunakan sebagai tempat penggemblengan prajurit yang berguna bagi negara atau semacamnya ketika dia (Hayam Wuruk) nanti sudah menjadi seorang penguasa atau raja. Dia berpikiran demikian karena Gadjah Mada memiliki jiwa sebagai pemimpin, berani dan thas-thes (Jawa, berarti tangkas dan cekatan). Namun Gadjah Mada harus menuruti perintah raja dan biaya padepokan itu harus murah. Mereka berdua punya seorang teman yang malas sekolah bernama Rama Pati, namun orangnya pintar dan lihai.
Pada suatu ketika tersebutlah seorang wanita yang bernama Dyah Pitaloka. Dia adalah seorang yang cantik, intelek, dan keibuan walaupun agak liar. Saat itu dia sedang bersama Rama Pati, mereka ngudoroso, membahas tentang berbagai hal yang sedang hangat ditempat belajar (kampus UGM) antara lain masalah kebijakan - kebijakan, kondisi perkuliahan, dan kapitalisme pendidikan. Tentu saja juga membahas tentang cinta, yang memang paling enak dibicarakan oleh para anak muda. Namun hal itu akhirnya ketahuan oleh Hayam Wuruk dan Gadjah Mada. Hayam Wuruk merasa telah dikhianati oleh Rama Pati karena ternyata Hayam Wuruk juga suka pada Dyah Pitaloka. Setelah hal itu berlalu maka mereka berdua sepakat untuk mendirikan kerajaan kelak nanti.
Lama waku berjalan, tibalah saatnya Hayam Wuruk menjadi raja dan Rama Pati serta Gadjah Mada menjadi orang kepercayaannya. Saat itu pula Gadjah Mada mengucapkan “Sumpah Amukti Palapa” untuk menyatukan nusantara (UGM). Namun apakah itu akan terjadi? nusantara bersatu?. Hayam Wuruk teringat akan Dyah Pitaloka yang dulu sempat menjadi tambatan hatinya. Kemudian dia pun menyuruh Patih Gadjah Mada untuk memboyong Dyah Pitaloka. Akan tetapi Gadjah Mada sempat menolak perintah itu karena Gadjah Mada mempunyai keinginan besar untuk menyatukan nusantara. Oleh karena Dyah Pitaloka berasal dari Sunda yang rencananya akan dijadikan wilayah koloni Majapahit. Setelah melalui perbincangan dan perdebatan akhirnya Gadjah Mada terpaksa menerima perintah itu.
Akhinya sampailah Gadjah Mada di tempat Dyah Pitaloka. Tanpa basi-basi dia membawa Dyah Pitaloka ke Majapahit. Ditengah - tengah perjalanan menuju Majapahit, Gadjah Mada mengatakan pada Dyah Pitaloka bahwa Hayam Wuruk itu seorang yang bersifat buruk: serakah, tamak, licik, pembohong, dan berbagai sifat busuk lainnya. Dan Gadjah Mada mencoba merayu dia, namun Dyah tidak mau dan tetap ingin bertemu dengan Hayam Wuruk. Hal itu membangkitkan emosi Gadjah Mada dan pada puncaknya dia membunuh semua rombongan tersebut. Dyah Pitaloka pun bunuh diri. Namun ada salah seorang yang lolos dan lari ke Majapahit untuk melaporkan hal ini ke Hayam Wuruk. Setelah Gadjah Mada kembali tanpa membawa hasil, dan Sang Prabu sudah tahu akan apa yang terjadi maka Hayam Wuruk pun marah pada patihnya tersebut dan Gadjah Mada akhirnya dipecat dari jabatan sebagai MahaPatih.
Sumpah Palapa
“ Sira Gadjah Mada Pepatih Amungkubumi Tan Ayun Amukita Palapa, Sira Gadjah Mada: Lamun Huwus Kalah Nusantara Ingsun Amukti Palapa, Lamu Kalah Ring Gurun, Ring Seram, Tanjungpura, Raing Haru, Ring Pahang, Dompo, Ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, Samana Ingsun Amukti Palapa” (Kitab Pararaton)
Penggunaan media alternatif kethoprak sebagai alat penyalur aspirasi ini, sesungguhnya adalah upaya mediasi antara pihak mahasiswa dan rektorat serta dekanat yang memiliki kuasa untuk membuat berbagai kebijakan. Kenapa memilih media alternatif ketoprak karena kethoprak adalah kesenian rakyat yang mampu merangkul semua elemen. Mulai kelas atas sampai kelas bawah. Dengan memerankan seorang tokoh kethoprak, diharapkan pemain memiliki kesadaran kognitif untuk mengubah perilaku. Keterlibatan pemain dan penonton secara aktif dalam sebuah pementasan, sejatinya telah menghapuskan, minimal mengurangi sedikit selimut debu yang memberi jarak antara pemain dan penonton, antara mahasiswa dan para pengambil kebijakan di UGM, rektor dan dekan.
PENUTUP
Tidak ada manusia hidup tanpa seni, sebab seni sangat membahagiakan manusia. Seni merupakan bagian yang tak terpisahkan dari seluruh kehidupan manusia. Seni merupakan cermin kehidupan manusia beserta masyarakatnya. Apabila terjadi penciptaan seni baru yang bermutu pertanda terjadi kemajuan adab dan budaya masyarakatnya. Seni yang bermutu menjadi sumber gagasan seseorang atau sekelompok masyarakat dalam rangka menghasilkan karya seni dan budaya yang bermutu dan beragam. Pengembangan seni mempunyai dampak terhadap pengembangan norma dan nilai dalam masyarakat dan bangsanya. Seniman menjadi agen dan pendidik untuk menyebarluaskan norma dan nilai yang telah disepakati bersama dan dikukuhkan oleh masyarakatnya. Seniman menjadi kritikus yang mampu menyodorkan berbagai pilihan saran perbaikan yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai bahan pertimbangan untuk pembangunan bangsa. Pengembangan seni dan budaya merupakan matra pembangunan bangsa.

DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, Irwan.
2006 Konstruksi dan Reproduksi Kebudayaan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Anderson, Benedict
2001 Imagined Communities. Insist Pers kerjasama dengan Pustaka Pelajar
Bailey, F. G.
1983. The Tactical Uses Of Passion. Cornell University Press
Barker, Chris.
2004 Cultural Studies: teori & praktik. Yogyakarta: Kreasi wacana.
Carr, S.
1992 Public Space. Van Nostrand Reinhold Company, New York.
Dananjaya, Utomo, dkk.
1995 Pendidikan Kaum Tertindas (Terjemahan dari Pedagogy of the Oppressed by Paulo Freire 1972). Jakarta: Penerbit LP3ES.
Mirsel, Robert.
2004 Teori Pergerakan Sosial. Yogyakarta.: INSIST Press.
Myrdal, Gunnar.
1968 Asian Drama: An Inquiry into The Poverty of Nations. New York: Pantheon.
Nordholt, Henk Schulte.
2005 Outward Appearance: Trend, Identitas dan Kepentingan. Yogyakarta: LKiS.
Scott, James C.
2000 Senjatanya Orang-orang Kalah: Bentuk Perlawanan sehari-hari Kaum Tani, Terj. A.Rahman Zainudin, Sayogyo, Mien Joebhaar. Jakarta: Yayasan Obor.
1998 Seeing Like State. New Heaven: Yale University Press.
1990 Domination and The Art of Resistance: Hidden Transcripts. New Heaven: Yale University Press.
1993 Perlawanan Kaum Tani. Jakarta: Yayasan Obor.
Vincent, Joan.
1978. “Political Anthropology: Manipulative Strategies”, Annual Review of Anthropology, 7:175-194
1 Perhatikanlah syair lagu Qasidah Anak Bertanya pada Bapaknya, ciptaan Sam Bimbo dan Taufik Ismail. Dalam satu kesempatan bertemu dengan Taufik Ismail pada tahun 1990, saya mendengar bahwa syair tersebut banyak disesalkan orang sebagai tidak mendorong kepada pembangunan, dan ternyata beliau sendiri setuju dengan kritikan tersebut.