31 Maret 2014

Konstruksi Tubuh dan Kebudayaan



Hannah V. A. James and  Michael D. Petraglia, 2005, Modern Human Origins and the Evolution of Behavior in the Later Pleistocene Record of South Asia, Current Anthropology, Vol. 46, No. S5 (December 2005), pp. S3-S27
Catatan arkeologis dari era Pleistosen Akhir di Asia Selatan memiliki peran yang krusial dalam pemahaman kita terhadap evolusi perilaku manusia modern dan persebaran anatomi manusia di seluruh Dunia Lama. Catatan Pleistosen Akhir di Asia Selatan merangkum dan meletakkan suatu konteks di dalam debat mengenai asal manusia modern. Aspek-aspek pada Asia Selatan mencatat adanya karakter yang umum yang juga tersebar di Dunia Lama, namun Asia Selatan juga menunjukkan suatu fitur adaptif dan pengembangan budaya materialnya sendiri. Lingkungan yang fluktuatif selama Pleistosen Akhir mempengaruhi adaptasi manusia modern dan manusia ‘archaic’ secara anatomi, mempengaruhi ukiran populasi, pergerakan, dan kegunaan inovasi-inovasi kultural. Dengan berdasarkan pada upaya mengungkapkan informasi genetis, arkeologis, dan biogeografis, dapat ditarik suatu hipotesis bahwa Homo Sapien yang terkolonisasi di Asia Selatan merupakan bagian persebaran dari Afrika. Efek dari proses demografis dan arah perubahan kultural merupakan suatu penjelasan bagi kurangnya pertanda “symbolic revolution” akan datangnya manusia yang modern secara anatomis ke anak benua India. Dicontohkan, era Paleolitik Akhir merepresentasikan adanya suatu diversifikasi perilaku adaptif yang dapat ditelusuri dari era Paleolitik Tengah.
Helen M. Leach, 2003, Human Domestication Reconsidered, Current Anthropology Volume 44, Number 3, June 2003
Dalam penggunaan secara ilmiah, domestikasi diartikan sebagai proses dimana manusia mentranformasi binatang buas dan tumbuhan menjadi produk yang berguna melalui pengendalian perkembangbiakannya. Perubahan fisik dan perilaku tersebut telah diidentifikasi sebagai kriteria domestikasi tersebut. Perubahan ini meliputi perubahan morfologis yang terdiri dari rangka tubuh di awal domestikasi Timur Tengah awal, misalnya reduksi ukuran dan kekuatan rangka, penajaman tengkorak dan wajah, dan turunnya ukuran gigi. Perubahan ini pun terjadi pada populasi manusia yang dimulai pada Pleistosen Akhir. Terdapat tekanan seleksi tak sadar (unconscious selection). Paradigma lama mengenai pengendalian manusia terhadap domestikasi melalui seleksi artifisial memiliki makna bahwa terdapat suatu paralelisme pada perubahan tersebut, namun jarang dicatat dan sedikit dijelaskan secara terbuka. Saat ini, hanya dometikasi simbolik dan domestikasi sosial yang diterima bagi Homo Sapiens. Artikel ini mengajukan suatu kasus pembuka bagi domestikasi manusia secara biologis yang didasarkan pada pengaruh lingkungan, mobilitas yang menurun, dan perubahan konsistensi pola makan terkait meningkatnya sedentisme.
Vinayak Eswaran, 2002, A Diffusion Wave out of Africa The Mechanism of the Modern Human Revolution?, Current Anthropology Volume 43, Number 5, December 2002.
Tulisan ini mengajukan bahwa transisi di seluruh dunia pada bentuk manusia secara anatomis disebabkan oleh persebaran difusif dari Afrika – suatu adaptasi kombinasi bersama dengan gen-gen baru – yang membawa suatu keuntungan genetis yang kompleks. Hal ini dimaksudkan bahwa pergerakan keluar dari Afrika bukanlah suatu migrasi, melainkan suatu difusi gelombang (diffusion wave) sebagai suatu ekspansi terus-menerus dari populasi modern, oleh pergerakan kecil secara acak, hibridisasi, dan seleksi alamiah yang menguntungkan genotip modern. Artikel ini mengajukan argumentasi bahwa genotif modern berkembang di Afrika melalui proses keseimbangan yang bergantian dan menyebar karena ini akan lebih menguntungkan secara global. Hal ini ditunjukkan bahwa genotif telah menyebar oleh difusi demik yang arahnya acak, namun hanya berada dalam persilangan dan seleksi yang kuat. Mekanisme ini diinvestigasi menggunakan suatu model kuantitatif yang mengusulkan penjelasan pada petak puzzle genetik, fosil, dan data arkeologis pada asal manusia modern. Data tersebut mengindikasi asimilasi genetik secara signifikan dari populasi manusia kuno kepada manusia modern. Keuntungan morfologis pada fenotip modern – mungkin dengan penekanan mortalitas anak – ditujukan sebagai penyebab dari transisi tersebut. Bukti dari hal tersbut dan revolusi manusia terdahulu menunjukkan bahwa proses keseimbangan-pergantian (the shifting-balance process), sebagaimana diajukan oleh Sewall Wright, merupakan hal yang sangat penting khususnya bagi evolusi manusia, bisa karena populasi manusia memiliki struktur sosial dengan interbreeding  yang rendah yang memungkinkan untuk dilakukannya proses tersebut. Hal ini menjelaskan keunikan evolusi manusia.
Robert Boyd, Peter J. Richerson, dan  Joseph Henrich, 2011, The Cultural Niche: Why Social Learning Is Essential For Human Adaptation, PNAS, June 28, 2011 vol. 108 suppl. 2
Dalam 60.000 tahun terkahir, manusia telah mengekspansi melintasi bumi dan menduduki rentang teritori yang lebih luas dari spesies lain. Kemampuan kita untuk beradaptasi dengan sukses pada begitu banyak tempat tinggal sering dijelaskan sebagai bagian dari kemampuan kognitif manusia. Manusia memiliki otak yang relatif lebih besar dan memiliki kekuatan komputerisasi yang lebih besar daripada hewan lainnya, dan ini memungkinkan kita untuk memperhitungkan bagaimana untuk tinggal di rentang lingkungan yang lebih luas. Mungkin ada keraguan bahwa manusia lebih cerdas daripada organisme lainnya, namun tak satupun dari manusia bisa cukup cerdas untuk bertahan di setiap habitat. Bahkan di masyarakat yang hidup di era terdahulu, orang-orang sangat bergantung pada berbagai jenis peralatan, pengetahuan lokal yang detail, dan tata sosial yang kompleks, dan sering kali tidak paham mengapa peralatan ini, kepercayaan tersebut, dan perilaku-perilaku tertentu telah sedemikian adaptif. Kesuksesan manusia merupakan kontribusi dari kemampuan mengembangkan diri secara unik yang dipelajari dari organisme yang lain. Kapasitas ini memungkinkan manusia untuk mengakumulasi informasi secara gradual lintas generasi dan mengembangkan peralatan yang adaptif, kepercayaan yang adaptif, dan praktek yang adaptif secara lebih baik, yang pada dadsarnya begitu kompleks bagi setiap individu yang diperoleh sepanjang hidupnya.
Leda Cosmides, H. Clark Barrett, dan John Tooby, Adaptive Specializations, Social Exchange, And The Evolution Of Human Intelligence, PNAS,  May 11, 2010, vol. 107, suppl. 2, 9007–9014
Teori papan-tulis-kosong (blank-slate theories) mengenai kecerdasan manusia mengajukan suatu alasan-alasan tertentu yang dibawa oleh tujuan umum penerapan kecerdasan tersebut secara seragam di lintas benua. Suatu pendekatan evolusionis mengisyaratkan berbagai model kecerdasan manusia yang berbeda secara radikal. Tugas tersebut menuntut suatu seleksi terhadap masalah-masalah adaptif yang berbeda bagi strategi penyelasaian masalah yung khusus secara fungsional, terlepas dari peningkatan secara masif kemampuan dalam menyelesaikan masalah problem adaptasi dari masa lalu. Oleh karena perubahan bisa menyusun hanya jika para pihak yang bekerja sama dapat mendeteksi kecurangan, maka dapat disusun suatu hipotesis bahwa nalar manusia dilengkapi dengan sistem kognitif-syaraf yang dikhususkan untuk memahami perubahan dan pertukaran sosial. Manakala performa manusia cukup lemah ketika diminta mendeteksi pelanggaran terhadap aturan-aturan tertentu, maka dapat diprediksi dan ditemukan suatu performa dramatik ketika suatu aturan dikhususkan pada suatu pertukaran dan pelanggaran terkait kecurangan. Sejalan dengan kritik tersebut, ketidakmampuan manusia mendeteksi pelanggaran terhadap aturan pertukaran sosial tidak dapat merefleksikan adanuya mekanisme deteksi kecurangan, namun memperluas cakupan mengenai hal-hal apa saja yang dibolehkan (deontic conditionals). Artikel ini melaporkan suatu pengujian eksperimental yang menyangkal teori tersebut dengan mendemonstrasikan bahwa aturan deontic sebagai suatu kelas, tidak mendatangkan suatu alasan bagi suatu pelanggaran. Artikel ini menunjukkan bahwa sistem deteksi kebohongan berfungsi dengan akurasi yang diragukan, yaitu mendasari pelanggaran terhadap aturan pertukaran sosial hanya ketika tampaknya akan mengungkap kehadiran seseorang yang mungkin menipu. Hal tersebut tidak ditujukan untuk mencari adanya pelanggaran terhadap aturan pertukaran sosial yang tak disengaja, yang tidak menguntungkan bagi si pelanggar, atau ketika situasi dimana melakukan penipuan adalah hal yang sulit.
Thomas D. Holland, Michael J. O’brien, Daniel M. T. Fessler, 2003, On Morning Sickness and the Neolithic Revolution, Current Anthropology, Vol. 44, No. 5 (December 2003), pp. 707-711
Topik tentang nausea atau on morning sickness yang dalam ilmu reproduksi biologi biasa disebut dengan vomiting in pregnancy (NVP), rasa mual pada saat hamil. Kondisi ini pertamakali dilaporkan oleh orang Yunani kira-kira 4000 tahun yang lalu.
Nausea => dari bahasa latin , yang artinya merasa sakit atau mual pada perut, ngilu pada ulu hati yang kadang disertai rasa ingin muntah. Nausea ini juga bisa disebut dengan on morning  sickness  => merujuk pada mual, umumnya pada wanita hamil kondisi ini terjadi pada trimester (tiga bulan) pertama dan berlanjut hingga trimester ketiga.
Nausea ini juga bisa disebabkan karena mabuk perjalanan (motion sickness), terganggunya system keseimbangan dan kestabilan tubuh terhadap ruang yg bisa juga disebut vertigo, mata berkunang-kunang, jalan sempoyongan, yang biasanya disertai rasa ingin muntah yang berlebihan, Migrain, radang lambung, dan keracunan makanan
Dalam artikel  “On Morning Sickness and the Neolithic Revolution” karya Thomas D. Holland and Michael J. O’brien ini menerangkan proses revolusi pada masa Neolithic, periode transisi dari jaman berburu meramu menuju jaman bercocok tanam dan tinggal menetap disuatu tempat tertentu yang menurut data arkeologi terjadi di daerah tropis dan subtropics di barat daya dan asia selatan. Pada masa ini masyarakat sudah membentuk desa atau kota kecil dan sudah mengenal system irigasi atau pengairan. Tanaman yang ditanam tentunya yang kadar karbohidratnya tinggi, seperti kentang di amerika selatan, maizena (sejenis tanaman jagung) di amerika tengah, biji-bijian yang mengandung tepung di amerika tengah,  cereal grains (mungkin sejenis gandum) di Timur Dekat (mungkin timur tengah, yang meliputi Arab, Turki, dan Afrika Barat), dan beras di Asia Selatan.
Wanita hamil mengalami penyesuaian kultural, seperti wanita hamil di Murngin berpantang makan daging dan ikan selama kehamilan. Di Tamil wanita hamil di bulan pertama cenderung mual sampai muntah dan disarankan untuk mengurangi asupan protein. Wanita hamil yang mengalami mual pada trimester pertama pada masa ini justru dilarang mengkonsumsi daging yang mengandung yang banyak protein yang berperan besar dalam membantu pertumbuhan janin yang dikandungnya.
Holland dan O’Brien berargumen bahwa rasa sakit pada wanita hamil bisa diatasi dengan mengkonsumsi tanaman pangan hasil budidaya. Dan saat ini UNEP (United Nation on Environment Proram) menyarankan untuk menjadi vegetarian dengan mengurangi asupan protein hewani dalam rangka adaptasi menghadapi perubahan iklim.
Amanda Blackburn & Christopher J. Knüsel, 2006, Hand Dominance and Bilateral Asymmetry of the Epicondylar Breadth of the Humerus: A Test in a Living Sample, Current Anthropology, Vol. 47, No. 2 (April 2006), pp. 377-382
Dalam mempertimbangkan asimetri bilateral dari lebarnya epicondylar pada distal humerus dan hubungannya terhadap dominasi tangan, maka dilakukan analisis matrik terhadap humerus terhadap populasi yang tinggal di Ontario, Canada, dan populasi Anglo-Saxon terakhir dari Raunds Furnells, Northamptonshire (UK). Pengujian terhadap kecenderungan asimetris dewasa mengungkapkan bahwa pada variabel tertentu – antara lain usia, jenis kelamin, bisa sangat mempengaruhi – menunjukkan adanya faktor-faktor biomekanis yang menjadi hal penting utama dari ekspresi karakter tersebut. Jenis studi ini menyediakan suatu pandangan mengenai bagaimana asimetris merupakan ekspresi di suatu populasi manusia modern sebagaimana juga menyediakan suatu makna tertentu yang memonitor perubahan-perubahan di masa lalu. Meskipun jarak perilaku antara manusia yang hidup saat ini cenderung dekat dengan mereka yang hidup pada dekade-dekade terakhir, namun terdapat dua karakteristik yang tampak berbeda di antara sesama manusia: bahasa dan ke-tangan-an (handedness). Keduanya terkait dengan lateralisasi fungsi otak dan tampak membedakan manusa dari semua spesies lain (Corballis 1991;Steele 2000a). Dari perspektif arkeologis, terdapat suatu kemungkinan yang umum untuk mendeteksi bahasa hanya melali dokumen tertulis. Terdapat latar yang sangat jelas bahwa sejumlah bahasa tidak bisa diperhitungkan karena tidak adanya sistem tulisan yang formal yang dimilikinya. Demikian juga, ke-tangan-an (handedness) juga merupakan karakter yang sukar untuk dipahami. Dominasi tungkai atas menunjukkan bahwa sisa osetologikal – sebagaimana analisis dalam tulisan ini terhadap sejumlah sampel manusia modern – membantu pengembangan potensi tangan dari dimensi humerus.
Shannen L. Robson, 2004, Breast Milk, Diet, and Large Human Brains, Current Anthropology, Vol. 45, No. 3 (June 2004), pp. 419-425.
Manusia memiliki ukuran otak yang lebih luas daripada yang dibutuhkan bagi ukuran tubuhnya, dan ini ditujukan supaya produk pangan dari hewan pada pola makan manusia memungkinkan manusia mendapatkan nutrisi bagi pengembangan otak, yang tak tersedia bagi spesies primata anthropoid. Otak manusia berkembang secara cepat sepanjang tahun pertama setelah kelahiran, ketika bayi sangat tergantung pada ASI, dan menunjukkan bahwa ASI memiliki kandungan biokimia yang dibutuhkan bagi pengembangan otak, yang disebut sebagai LC-PUFAs AA  dan DHA. Namun demikian, berbagai pembuktian menunjukkan bahwa tidak terdapat indikasi bahwa ASI tersebut berbeda dengan susu yang dihasilkan primata lainnya. Terdapat berbagai variasi yang luas pada pola makan maternal, dan itu hanya memiliki dampak kecil terhadap kualitas ASI. Para ibu yang kekurangan asupan LC-PUFAs masih bisa memproduksi AA dan DHA pada ASI-nya. Bayi yang mencerna sejumlah LC-PUFA sebagai suplemen, memiliki level sirkulasi yang lebih tinggi, namun tidak mengembangkan ukuran otak menjadi lebih luas. Sementara itu, bayi yang kekurangan LC-PUFA tetap dapat berkembang secara normal. Baik perbandingan ASI lintas spesies, maupun perbandingan pola makan ibu lintas spesies, kesemuanya tidak dapat mendukung hipotesis bahwa pola makan manusia dapat mendukung perkembangan ukuran otak bayi manusia.
Elena Garcia Guixé, Michael P. Richards, M. Eulàlia Subirà, 2006, Palaeodiets of Humans and Fauna at the Spanish Mesolithic Site of El Collado, Current Anthropology, Vol. 47, No. 3 (June 2006), pp. 549-557
Sebagain besar riset terdahulu yang bertema cukup langka di Eropa Mesolitik dilakukan di Eropa bagian utara, dimana terdapat bukti yang jelas adanya adaptasi terhadap kehidupan laut, khususnya pada Mesolitik Akhir. Hanya terdapat sedikit data mengenai Eropa bagian selatan secara keseluruhan, dan data yang disajikan dalam artikel ini memiliki kesamaan dengan apa yang telah disajikan mengenai manusia Mesolitik di utara Eropa yang menunjukkan adanya pola makan secara musiman sebagai adaptasi terhadap pangan bersumber dari laut pada periode tertentu. dengan adanya data yang lebih banyak mengenai adaptasi pola makan, maka akan lebih baik dalam mengkomparasikan pola makan masyarakat di utara dan selatan Eropa di era Palaeolithic, Mesolithic, dan Neo-lithic.
Dana Walrath, 2003, Rethinking Pelvic Typologies and the Human Birth Mechanism, Current Anthropology, Vol. 44, No. 1 (February 2003), pp. 5-31
Rekonstruksi paleoantropologis pada kelahiran bayi di genus Homo secara khusus terletak pada suatu model yang termasuk dalam evolusi suatu mekanisme kelahiran manusia yang ada di dalam jenis yang tunggal (monotypic). Terdapat dua jenis karakter  mengenai mekanisme atau jejak yang ditempuh oleh calon bayi (fetus) ketika melalui liang peranakan: rotasi fetus dan kelahiran yang berseberangan dengan sang ibu. Evolusi dari kedua fitur ini dikatakan untuk memfasilitasi kelahiran melalui pinggul bipedal, namun juga sebagai bukti adanya kesulitan pada kelahiran manusia itu relatif dibandingkan pada primata ataupun nenek-moyang yang memiliki ukuran otak yang lebih kecil. Sebaliknya, posisi mekanisme kelahiran sangat bervariasi saat ini dan kemungkinan juga terjadi di masa lalu. Perhatian terhadap mekanisme kelahiran yang monotipe telah dibawa pada perdebatan paleoantropologis dari cara berfikir tipologis pada praktek dan teks biomedis di Eropa dan Amerika. Sejarah deksripsi anatomis dari jenis pinggul dan keterkaitannya dengan mekanisme kelahiran menunjukkan suatu kecenderungan kepada konsep mekanisme kelahiran normal yang tunggal pada praktek biomedis. Artikel ini membahas bahwa tipologi pinggul yang didefinisikan secara biomedis menyebabkan suatu definisi yang statis pada variasi morfologis pinggul manusia, dan pada gilirannya, hal ini menciptakan definisi yang statis terhadap proses kelahiran manusia sebagaimana yang dinyatakan dalam model paleoantropologis.
Beverly I. Strassmann, 2011, Cooperation And Competition In A Cliff-Dwelling People, PNAS, June 28, 2011, vol. 108, suppl. 2, pp.10894–10901
Sebagai organisme yang berkembangbiak secara kooperatif, individu manusia dewasa terkadang akan menunda reproduksinya, dan bertindak sebagai penolong bagi orang terdekat yang sedang membesarkan anak. Hal ini dimaksudkan bahwa manusia juga merupakan spesies berkembang biak yang kooperatif karena anak perempuan, nenek dan kerabat lain atau non-kerabat mungkin akan menyediakan pengasuhan yang signifikan. Melalui studi terhadap anak-anak yang tumbuh dan bertahan di Dogon, Mali, artikel ini menunjukkan bahwa teori perkembangbiakan kooperatif sangat lemah diterapkan pada populasi dimana terdapat keluarga yang dinamis. Alih-alih berkerja sama, saudara kandung justru bersaing mendapatkan sumber daya, menciptakan pertukaran di antara sejumlah saudara kandung seibu, baik dalam hal pertumbuhan maupun mempertahankan diri. Tidak dibutuhkan suatu desa untuk membesarkan anak, karena anak-anak dibesarkan di keluarga inti sebagimana juga di keluarga luas. Salah satu perhatian yang penting yaitu derajat poligini, yang menciptakan banyak konflik terkait keterhubungan genetis yang asimetris. Resiko kematian yang lebih tinggi dan rata-rata pertumbuhan yang lambat terjadi pada keluarga poligini dibandingkan keluarga yang monogini. Resiko kematian anak-anak Dogon dua kali lipat lebih banyak jika tinggal di ayah nenek yng masih hidup dibandingkan yang telah mati. Temuan ini merefleksikan kelemahan nenek yang lebih tua (yang menjadi konsumen sepenuhnya) dibandingkan menjadi produser penuh di masyarakat yang miskin sumberdaya. Para ibu yang kewalahan mengurus anak, tidak bisa digantikan oleh anggota kerabat atau non kerabat lainnya. Ide berkembang biak secara kooperatif dari studi organisme hewan sangat lemah dalam menjelaskan kompleksitas dan keragaman interaksi manusia.
Carlos A. Driscoll, David W. Macdonald, dan Stephen J. O’Brien, 2009, From Wild Animals To Domestic Pets, An Evolutionary View Of Domestication, PNAS, June 16, 2009 vol. 106 suppl. 1, pp.9971–9978
Seleksi artifisial / buatan adalah seleksi dari berbagai variasi keuntungan alamiah bagi manusia dan sebagai mekanisme oleh pengembangan spesies domestik. Sebagian besar domestikasi memiliki asal pada suatu pusat sejarah dari domestikasi binatang ternak. Dua pengecualian utama adalah kucing dan anjing. Domestikasi serigala diinisiasi pada akhir era Mesolitik ketika manusia masih merupakan makhluk nomaden yang berburu dan meramu. Serigala tersebut kurang takut kepada manusia, namun mereka kerap mengais-ngais tenda kelompok manusia nomaden dan kemudian manusia mengembangkan fungsinya. Mula-mula sebagai penjaga apabila ada binatang lain atau kelompok lain yang mendekat, dan selanjutnya sebagai bagian dari pemburu atau sebagai bagian dari fungsi-fungsi tertentu melalui seleksi artifisial. Kucing domestik pertama terbatas pada pemanfaatan dan inisiasi domestifikasi mereka sejalan dengan mulai menetapkan awal budi daya pertanian di era Neolitik pada Timur Dekat. Domestikasi kucing liar terjadi melalui suatu proses seleksi diri dimana terdapat penyusunan perilaku isolasi produktif dalam lingkungan urban. Kucing liar Eurasian merupakan domestikasi inisiatif dan evolusi mereka menjadi binatang peliharaan  dimulai dari suatu proses seleksi yang alamiah, dibandingkan seleksi artifisial, dari waktu ke waktu.
Francisco J. Ayala, 2010, The difference of being human: Morality, PNAS, May 11, 2010, vol. 107, suppl. 2, pp. 9015–9022
Dalam buku The Descent of Man, dan Selection in Relation to Sex, yang dipublikasi pada 1871, Charles Darwin menulis : “saya sepenuhnya ... mengajukan kepada penilaian para penulis yang menyatakan bahwa seluruh perbedaan antara manusia dan hewan yang lebih rendah adalah moral atau kesadaran sebagai sesuatu yang sangat utama”. Artikel ini mengajukan pertanyaan mengenai dalam hal apa moralitas adalah sesuatu yang menentukan secara kultural maupun secara biologis. Pertanyaan mengenai apakah moralitas menentukan secara biologis merujuk pada kapasitas etika atau norma moral yang diterima manusia sebagi panduan tindakan mereka. Artikel ini menyatakan bahwa kapasitas bagi etika adalah atribusi yang diperlukan manusia, yang mana tata moral adalah produk dari evolusi kultural. Manusia memiliki rasa moral karena bentukan biologis yang menentukan kehadiran 3 hal penting bagi perilaku etis, yaitu (1) kemampuan antisipasi terhadap konsekuensi dari aksinya sendiri, (2) kemampuan untuk menilai, (3) kemampuan memilih alternatif di antara sekian banyak aksi. Perilaku etis hadir melalui evolusi, bukan karena ini adaptif, namun sebagai konsekuensi dari kemampuan intelektual, dimana suatu atribut tersebut secara langsung dipromosikan oleh seleksi alamiah. Dengan demikian, bangunan moralitas sebagai sebagai exaptation, bukan sebagai adaptation. Aturan moral, bagaimanapun, adalah hasil dari evolusi budaya, yang berasal dari keragaman norma budaya diantara populasi dan evolusi dari waktu ke waktu.
John Smalley and Michael Blake, 2003, Sweet Beginnings: Stalk Sugar and the Domestication of Maize, Current Anthropology, Vol. 44, No. 5 (December 2003), pp. 675-703
Artikel ini mengelaborasi saran yang diajukan oleh Hugh H. Iltis bahwa nenek moyang maizena (tepung jagung) pada awalnya didomestikasi bukan untuk panennya namun untuk rasa manisnya. Artikel ini dimaksudkan bahwa sepanjang periode awal domestifikasi maizena, batang jagung telah menjadi sumber gula bagi banyak kegunaan, termasuk membuat minuman beralkohol, dan keutamaan sosial dari produksi alkohol adalah perluasan yang sangat cepat. Berbagai jalur pembuktian telah diuji untuk mengajukan suatu hipotesis, dan topik bagi penelitian arkeologis yang lebih jauh akan berkontribusi signifikan terhadap upaya tersebut.
Bjoern H. Menze dan Jason A. Ur, 2012, Mapping patterns of long-term settlement in Northern Mesopotamia at a large scale, E778–E787 PNAS Published online March 19, 2012
Bentang alam daerah Timur Dekat menunjukkan dua hal, baik pemukiman awal dan perjalanan panjang dari sistem pemukiman. Gundukan merupakan karakteristik bangunan dari pemukiman, dihasilkan dari aktivitas pemukiman sejak ribuan tahun pada lokasi yang berbeda. Sejauh ini, fitur yang didefinsikan dari pemukiman kuno tidak mendapat cukup perhatian, ataupun sebagai subjek evaluasi sistematik. Artikel ini mengajukan suatu pendekatan penginderaan jarak jauh (remote sensing approach) untuk memetakan secara komprehensif pola pemukiman manusa dalam skala yang luas dan membangun catatan arkeologis yang lebih luas untuk bentang alam di Mesopotamia. Memetakan kira-kira 14,000 situs pemukiman yang berkembang selama 8 milenium, pada resolusi 15m di area 23,000 kilometer persegi di timur laut Syiria. Untuk memetakan tempat yang berupa gundukan maupun cerukan, artikel ini mengembangkan suatu strategi untuk mengidentifikasi jejak manusia pada rangkaian waktu pada gambar satelit yang multispektral dan mengukur volume ukuran pemukiman melalui suatu model elevasi digital. Dengan menggunakan volume ini sebagai penanda adanya pendudukan yang berkelanjutan, artikel ini menunjukkan adanya suartu ketergantungan pada daya tarik suatu lokasi berdasarkan ketersediaan air, juga hubungan yang kuat antara jaringan pertukaran yang ditunjukkan dari catatan dan rute antar lokasi sejak milenium sebelum Masehi sampai saat ini. Penulis mempercayai bahwa sangat dimungkinkan untuk membangun suatu peta pemukiman penduduk di sepanjang jalur aliran sungai di utara Mesopotamia, dan volume suatu situs merupakan kuantitas kunci untuk membuka kecenderungan jangka panjang pada aktivitas pemukiman dari catatan tersebut.

Tidak ada komentar: