Orang Bali memandang ayam jago sebagai
simbol manusia. Mereka memperlakukan ayam jago lebih dari apa yang
diperlakukannya terhadap dirinya sendiri. Ayam jago mendapat perlakuan khusus
selayaknya barang berharga. Orang Bali kebanyakan
menghabiskan waktunya untuk merawat, memberi makan, dan membicarakan ayam-ayam
jago mereka. Sikap ini didasari oleh konsep orang Bali
tentang tubuh sebagai seperangkat bagian-bagian berjiwa yang terpisah-pisah,
dan ayam jago dipandang sebagai zakar yang dapat ditanggalkan dan dapat
bergerak sendiri, sebagai alat kelamin yang berjalan-jalan yang hidup. Tidak
perlu diragukan bahwa orang Bali begitu yakin
dan pasti bahwa ayam jago adalah simbol kejantanan.
Ternyata di Jawa juga ada konsepsi yang sama dengan orang Bali. Persaudaraan Setia Hati Terate juga menyimbolkan
kejantanan dengan ayam jago. Ketika siswa perguruan pencak silat PSHT akan
disahkan menjadi warga, suatu tingkatan dalam PSHT yang ditandai dengan sabuk
putih dari kain mori, diwajibkan menyediakan sebuah ayam jantan yang nantinya
akan dipergunakan untuk melihat bagaimana sikap dan tingkah laku siswa PSHT
sesudah disahkan menjadi warga.
Menurut konsepsi orang Bali, seseorang
lelaki yang angkuh yang tingkah lakunya melampaui lingkungannya disamakan
dengan seekor ayam jago yang tak berekor yang berlagak seolah-olah ia mempunyai
ekor yang luar biasa. Seorang laki-laki yang kikir, yang berjanji muluk-muluk,
memberi sedikit sesuatu dan menyesali pemberian itu, dibandingkan dengan seekor
ayam jago yang apabila dipegang ekornya, meloncat pada ayam yang lain tanpa
melakukan perlawanan. Dalam sebuah pertarungan sabung ayam, menurut orang Bali sesungguhnya yang bertarung itu bukanlah ayam-ayam jago,
melainkan manusia
Terhadap binatang peliharaan lainnya seperti bebek, sapi, dan lain
sebagainya, orang Bali menganggap binatang
tersebut tidak memiliki arti apa-apa. Bahkan orang Bali
memperlakukan anjing piarannya tanpa perasaan dan tak jarang dengan kekejian
yang mengerikan.
Hubungan ayam jantan dan sabung ayam dengan kekuasaan-kekuasaan kegelapan
sangatlah eksplisit. Sebuah sabung ayam, pertama-tama adalah sebuah kurban
darah yang dipersembahkan dengan mantra-mantra dan puji-pujian yang layak
kepada roh-roh jahat supaya dapat memuaskan kelaparan roh jahat. Bila ketentuan
ini diabaikan, seseorang akan trans dan memerintah dengan perantara suara roh
tersebut untuk meluruskan kesalahan itu.
Di dalam perayaan hari raya Nyepi, sehari sebelumnya diadakan sabung ayam
besar-besaran secara legal dan hampir setiap desa melaksanakan ritual ini. Pelaksanaan
sabung ayam (tetajen;sabungan) diadakan di dalam sebuah ring kira-kira lima puluh kaki persegi.
Biasanya dimulai menjelang tengah hari dan berlangsung tiga sampai empat jam
hingga matahari terbenam. Kira-kira sembilan atau sepuluh pertandingan (sehet)
mengisi satu acara. Seperti pola umum dalam suatu pertandingan, tak ada
pertandingan utama, tak ada hubungan diantara masing-masing pertandingan, tak
ada variasi dalam bentuknya, dan masing masing dirancang atas dasar yang sama
sekali khusus.
Taji dipasang khusus oleh ahli yang jumlahnya tiap desa tak lebih dari
enam orang. Taji dipasang dengan melilitkan seutas tali panjang disekeliling
kaki bertaji ayam jago itu. Taji itu diasah hanya pada waktu gerhana bulan atau
ketika bulan tidak penuh. Senjata itu harus tidak boleh terlihat oleh perempuan.
Setelah taji terpasang, dua aym jago diletakkan ditengah-tengah ring. Selama
dua puluh satu detik, pemegangnya (pengangkeh) tidak boleh menyentuh jago
mereka. Dalam pertarungan puncak jago yang tewas dinyatakan kalah. Apabila
kedua jago terluka parah dan akhirnya salah satu dari jago tersebut tewas, maka
jago yang kuat bertahan dinyatkan menang sekalipun pada akhirnya jago itupun
juga tewas. Wasit ( saja koineng; juru kembar ) mempunyai kewenangan mutlak dan
keputusannya tidak bias diganggugugat.
Pada zaman klasik, sebelum invasi Belanda, pada saat tak ada birokrat
yang memperbaiki moralitas masyarakat, pementasan sabung ayam adalah sebuah masalah eksplisit bersifat
kemasyarakatan. Membawa ayan jago dalam sebuah pertandingan adalh suatu hal
yang wajib dilakukan oleh seorang laki-laki dewasa. Pajak pertarungan yang
biasanya diselenggarakan pada hari pasaran, merupakan sumber penghasilan publik
yang utama.
Sabung ayam di Bali sebenarnya mengejar
tema-tema seperti: maut, kejantanan, angkara murka, kebanggan, kehilangan,
kemurahan hati, kebetulan, dan menata semua tema itu menjadi sebuah relief
pandangan khusus tentang hakekat essensial dari tema-tema itu. Sabung ayam
meletakkan konstruksi tentang tema-tema itu. Secara histories konstrusi tentang
sabung ayam membuat semua tema itu menjadi lebuh bermakna, yakni: dapat
dilihat, diraba, dapat ditangkap yang nyata dalam arti ideasional. Sebagai
sebuah gambaran, fiksi, sebuah model, sebuah metafor, sabung ayam adalah sebuah
sarana untuk ekspresi. Fungsinya adalah bukn untuk meredakan nafsu-nafsu sosial
dan juga bukan mempertinggi nafsu-nafsu itu, melainkan dengan adanya medium
bulu, darah, kerumunan, dan uang, memperlihatkan adanya nafsu-nafsu sosial itu.
Keresahan muncul pada peristiwa sabung ayam, bukan karena alasan bahwa
sabung ayam itu memiliki efek-efek material. Alasannya adalah bahwa dengan
mengaitkan kebanggaan pada kedirian,
kedirian ayam jago, dan jago pada penghancuran, sabung ayam membawa ke
realisasi imajinatif sebuah dimensi dari pengalaman orang Bali
yang biasanya luput dari penglihatan. Sabung ayam bukanlah tiruan kehidupan sosial
orang Bali dan juga bukan penafsiran atasnya
atau bukan juga ungkapan darinya. Sabung ayam adalah sebuah contoh kehidupan
orang Bali, yang dipersiapkan dengan
cermatnya.
Sentimen dalam sabung ayam ini terungkap dalam selubung paling tipis
yaitu kedok binatang saja, sebuah kedok yang sebenarnya lebih efektif
mempertunjukkan sentimen itu daripada menyembunyikan sentimen itu. Tanpa sabung
ayam orang Bali akan kurang pasti memahami
sentimen-sentimen itu, yang agaknya menjadi sebab mengapa mereka menilai sabung
ayam sebegitu tingginya.
Apa yang menjauhkan sabung ayam dari arus kehidupan biasa, mengangkatnya
dari dunia peristiwa praktis sehari-hari, dan mengelilinginya dengan sebuah
pancaran nilai yang penting yang luas. Bukan seperti anggapan sosiologi
fungsionalis bahwa sabung ayam memperkuat diskriminasi status, akan tetapi
sesungguhnya bahwa sabung ayam menyediakan sebuah komentar metasosial tentang
seluruh persoalan yang menyusun umat manusia kedalam peringkat-peringkat
hierarkis yang ketat kemudian menata bagian pokok kehidupan kolektif di sekitar
penyusunan itu. Fungsinya adalah sebuah pembacaan dari orang Bali
tentang pengalaman orang Bali, sebuah cerita
yang mereka ceritakan pada diri mereka sendiri tentang diri mereka sendiri.
Mengikuti sabung ayam dan mengambil bagian di dalamnya, bagi orang Bali adalah semacam pendidikan sentimental. Apa yang
dipelajari di sana
adalah apakah etos kebudayaannya dan sensibilitas pribadinya. Sabung ayam
adalah pencerminan orang Bali tentang
kekerasan-kekerasan mereka: tentang pandangan kekerasan, pemakaian kekerasan,
kekuatn kekerasan, daya tarik kekerasan.
Dengan menggambarkannya pada hampir setiap taraf pengalaman orang Bali, sabung ayam membawa serta tema-tema, seperti: kebuasan
binatang, narcisme jantan, lawan judi, persaingan status, kegairahan massa, dan korban darah.
Kaitan pokok tema-tema itu adalah keterlibatan tema-tema itu dengan angkara
murka dan ketakutan akan angkara murka itu.
Sabung ayam memungkinkan orang Bali
untuk melihat sebuah dimensi dari subyektifitasnya sendiri. Di dalam sabung
ayam, orang Bali membentuk dan menemukan
wataknya dan sekaligus sebagai perangainya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar