31 Maret 2014

Konsepsi Orang Bali Terhadap Sabung Ayam



Orang Bali memandang ayam jago sebagai simbol manusia. Mereka memperlakukan ayam jago lebih dari apa yang diperlakukannya terhadap dirinya sendiri. Ayam jago mendapat perlakuan khusus selayaknya barang berharga. Orang Bali kebanyakan menghabiskan waktunya untuk merawat, memberi makan, dan membicarakan ayam-ayam jago mereka. Sikap ini didasari oleh konsep orang Bali tentang tubuh sebagai seperangkat bagian-bagian berjiwa yang terpisah-pisah, dan ayam jago dipandang sebagai zakar yang dapat ditanggalkan dan dapat bergerak sendiri, sebagai alat kelamin yang berjalan-jalan yang hidup. Tidak perlu diragukan bahwa orang Bali begitu yakin dan pasti bahwa ayam jago adalah simbol kejantanan.
Ternyata di Jawa juga ada konsepsi yang sama dengan orang Bali. Persaudaraan Setia Hati Terate juga menyimbolkan kejantanan dengan ayam jago. Ketika siswa perguruan pencak silat PSHT akan disahkan menjadi warga, suatu tingkatan dalam PSHT yang ditandai dengan sabuk putih dari kain mori, diwajibkan menyediakan sebuah ayam jantan yang nantinya akan dipergunakan untuk melihat bagaimana sikap dan tingkah laku siswa PSHT sesudah disahkan menjadi warga.
Menurut konsepsi orang Bali, seseorang lelaki yang angkuh yang tingkah lakunya melampaui lingkungannya disamakan dengan seekor ayam jago yang tak berekor yang berlagak seolah-olah ia mempunyai ekor yang luar biasa. Seorang laki-laki yang kikir, yang berjanji muluk-muluk, memberi sedikit sesuatu dan menyesali pemberian itu, dibandingkan dengan seekor ayam jago yang apabila dipegang ekornya, meloncat pada ayam yang lain tanpa melakukan perlawanan. Dalam sebuah pertarungan sabung ayam, menurut orang Bali sesungguhnya yang bertarung itu bukanlah ayam-ayam jago, melainkan manusia
Terhadap binatang peliharaan lainnya seperti bebek, sapi, dan lain sebagainya, orang Bali menganggap binatang tersebut tidak memiliki arti apa-apa. Bahkan orang Bali memperlakukan anjing piarannya tanpa perasaan dan tak jarang dengan kekejian yang mengerikan.
Hubungan ayam jantan dan sabung ayam dengan kekuasaan-kekuasaan kegelapan sangatlah eksplisit. Sebuah sabung ayam, pertama-tama adalah sebuah kurban darah yang dipersembahkan dengan mantra-mantra dan puji-pujian yang layak kepada roh-roh jahat supaya dapat memuaskan kelaparan roh jahat. Bila ketentuan ini diabaikan, seseorang akan trans dan memerintah dengan perantara suara roh tersebut untuk meluruskan kesalahan itu.
Di dalam perayaan hari raya Nyepi, sehari sebelumnya diadakan sabung ayam besar-besaran secara legal dan hampir setiap desa melaksanakan ritual ini. Pelaksanaan sabung ayam (tetajen;sabungan) diadakan di dalam sebuah ring kira-kira lima puluh kaki persegi. Biasanya dimulai menjelang tengah hari dan berlangsung tiga sampai empat jam hingga matahari terbenam. Kira-kira sembilan atau sepuluh pertandingan (sehet) mengisi satu acara. Seperti pola umum dalam suatu pertandingan, tak ada pertandingan utama, tak ada hubungan diantara masing-masing pertandingan, tak ada variasi dalam bentuknya, dan masing masing dirancang atas dasar yang sama sekali khusus.
Taji dipasang khusus oleh ahli yang jumlahnya tiap desa tak lebih dari enam orang. Taji dipasang dengan melilitkan seutas tali panjang disekeliling kaki bertaji ayam jago itu. Taji itu diasah hanya pada waktu gerhana bulan atau ketika bulan tidak penuh. Senjata itu harus tidak boleh terlihat oleh perempuan. Setelah taji terpasang, dua aym jago diletakkan ditengah-tengah ring. Selama dua puluh satu detik, pemegangnya (pengangkeh) tidak boleh menyentuh jago mereka. Dalam pertarungan puncak jago yang tewas dinyatakan kalah. Apabila kedua jago terluka parah dan akhirnya salah satu dari jago tersebut tewas, maka jago yang kuat bertahan dinyatkan menang sekalipun pada akhirnya jago itupun juga tewas. Wasit ( saja koineng; juru kembar ) mempunyai kewenangan mutlak dan keputusannya tidak bias diganggugugat.
Pada zaman klasik, sebelum invasi Belanda, pada saat tak ada birokrat yang memperbaiki moralitas masyarakat, pementasan sabung ayam adalah  sebuah masalah eksplisit bersifat kemasyarakatan. Membawa ayan jago dalam sebuah pertandingan adalh suatu hal yang wajib dilakukan oleh seorang laki-laki dewasa. Pajak pertarungan yang biasanya diselenggarakan pada hari pasaran, merupakan sumber penghasilan publik yang utama.
Sabung ayam di Bali sebenarnya mengejar tema-tema seperti: maut, kejantanan, angkara murka, kebanggan, kehilangan, kemurahan hati, kebetulan, dan menata semua tema itu menjadi sebuah relief pandangan khusus tentang hakekat essensial dari tema-tema itu. Sabung ayam meletakkan konstruksi tentang tema-tema itu. Secara histories konstrusi tentang sabung ayam membuat semua tema itu menjadi lebuh bermakna, yakni: dapat dilihat, diraba, dapat ditangkap yang nyata dalam arti ideasional. Sebagai sebuah gambaran, fiksi, sebuah model, sebuah metafor, sabung ayam adalah sebuah sarana untuk ekspresi. Fungsinya adalah bukn untuk meredakan nafsu-nafsu sosial dan juga bukan mempertinggi nafsu-nafsu itu, melainkan dengan adanya medium bulu, darah, kerumunan, dan uang, memperlihatkan adanya nafsu-nafsu sosial itu.
Keresahan muncul pada peristiwa sabung ayam, bukan karena alasan bahwa sabung ayam itu memiliki efek-efek material. Alasannya adalah bahwa dengan mengaitkan kebanggaan pada  kedirian, kedirian ayam jago, dan jago pada penghancuran, sabung ayam membawa ke realisasi imajinatif sebuah dimensi dari pengalaman orang Bali yang biasanya luput dari penglihatan. Sabung ayam bukanlah tiruan kehidupan sosial orang Bali dan juga bukan penafsiran atasnya atau bukan juga ungkapan darinya. Sabung ayam adalah sebuah contoh kehidupan orang Bali, yang dipersiapkan dengan cermatnya.
Sentimen dalam sabung ayam ini terungkap dalam selubung paling tipis yaitu kedok binatang saja, sebuah kedok yang sebenarnya lebih efektif mempertunjukkan sentimen itu daripada menyembunyikan sentimen itu. Tanpa sabung ayam orang Bali akan kurang pasti memahami sentimen-sentimen itu, yang agaknya menjadi sebab mengapa mereka menilai sabung ayam sebegitu tingginya.
Apa yang menjauhkan sabung ayam dari arus kehidupan biasa, mengangkatnya dari dunia peristiwa praktis sehari-hari, dan mengelilinginya dengan sebuah pancaran nilai yang penting yang luas. Bukan seperti anggapan sosiologi fungsionalis bahwa sabung ayam memperkuat diskriminasi status, akan tetapi sesungguhnya bahwa sabung ayam menyediakan sebuah komentar metasosial tentang seluruh persoalan yang menyusun umat manusia kedalam peringkat-peringkat hierarkis yang ketat kemudian menata bagian pokok kehidupan kolektif di sekitar penyusunan itu. Fungsinya adalah sebuah pembacaan dari orang Bali tentang pengalaman orang Bali, sebuah cerita yang mereka ceritakan pada diri mereka sendiri tentang diri mereka sendiri.
Mengikuti sabung ayam dan mengambil bagian di dalamnya, bagi orang Bali adalah semacam pendidikan sentimental. Apa yang dipelajari di sana adalah apakah etos kebudayaannya dan sensibilitas pribadinya. Sabung ayam adalah pencerminan orang Bali tentang kekerasan-kekerasan mereka: tentang pandangan kekerasan, pemakaian kekerasan, kekuatn kekerasan, daya tarik kekerasan.  Dengan menggambarkannya pada hampir setiap taraf pengalaman orang Bali, sabung ayam membawa serta tema-tema, seperti: kebuasan binatang, narcisme jantan, lawan judi, persaingan status, kegairahan massa, dan korban darah. Kaitan pokok tema-tema itu adalah keterlibatan tema-tema itu dengan angkara murka dan ketakutan akan angkara murka itu.
Sabung ayam memungkinkan orang Bali untuk melihat sebuah dimensi dari subyektifitasnya sendiri. Di dalam sabung ayam, orang Bali membentuk dan menemukan wataknya dan sekaligus sebagai perangainya.

Tidak ada komentar: