31 Maret 2014

Review: Dongeng Bajo



Jika Levi Strauss menganalisa mitos orang Indian di Amerika Utara, maka Heddy melakukan hal yang sama pada orang Bajo di Indonesia. Menganalisa berarti menginterpretasikan, proses memaknai suatu kebudayaan masyarakat. Alat analisanya berupa mitos yang banyak tersebar di masyarakat. Apabila hendak memahami kehidupan suatu masyarakat maka perhatikan dan pahami mitos yang beredar. Dalam buku “Strukturalisme Levi-Strauss : Mitos dan Karya Sastra”, mitos dapat dipergunakan sebagai salah satu pintu untuk memahami budaya masyarakat pemilik mitos tersebut. Namun mitos juga hanya dapat dipahami dengan baik jika mengetahui budaya masyarakat yang bersangkutan. Dalam proses interpretasi terhadap sebuah mitos yang terjadi sebenarnya adalah sebuah gerak dialektis dari data kebudayaan ke mitos itu sendiri, dan dari satu bagian ke keseluruhan, part to the whole dan whole to the part. Proses dialektis semacam ini terjadi dalam proses interpretasi terhadap mitos dan kebudayaan. (Heddy Shri Ahimsa Putra, Strukturalisme Levi Strauss: mitos dan karya sastra, hal 257, tahun 200, Galang Press).
Saya belum pernah menginjakkan kaki di kehidupan masyarakat Bajo. Namun dari pemaparan dalam buku “Strukturalisme Levi-Strauss : Mitos dan Karya Sastra”, dalam analisis struktural dongeng Bajo, saya menangkap sesuatu yang amat penting bagi masyarakat Bajo. Sesuatu itu adalah laut. Masyarakat Bajo tidak pernah lepas dari lautan. Mereka adalah suku pengembara. Imajinasi saya langsung merujuk pada siklus kelahiran orang Jawa, ari-ari (plasenta) orang Jawa dikubur di depan rumah, mungkin inilah yang menyebab orang Jawa tidak punya tradisi merantau. Orang Jawa  punya konsep sangkan paraning dumadi dan kakang kawah adi ari-ari, yang merujuk pada proses kelahiran, kembali kepada awal mula kehidupan, biasanya orang jawa setelah meninggal selalu minta dikuburkan di tempat kelahiran karena ­ari-ari nya dikubur di rumah. Berbeda dengan orang Bajo. Mungkin ari-ari nya dilarung ke laut sehingga akhirnya mereka menjadi pengembara.
Mite sebagai bagian dari cerita rakyat merupakan manifestasi dari struktur alam pikir masyarakat pemilik mite tersebut. Sesuatu yang rekat dalam kehidupan masyarakat akan termanifestasi kembali melalui mite tersebut.  Alam pikir masyarakat terbentuk melalui bagaimana mereka memaknai lingkungan disekitarnya. Realitaslah yang mempengaruhi kesadaran. Mungkin pernyataan ini mirip dengan strukturalisme Marxian. Bedanya, strukturalisme Marxian hanya menekankan pada mode produksi sebagai pembentuk kesadaran kelas. Sedangkan strukturalisme secara umum menempatkan realitas sebagai pembentuk struktur pikiran. Apa yang ada dalam alam pikir masyarakat dapat dilihat dari ‘artefak’ yang dihasilkan masyarakat itu sendiri. Artefak yang dimaksud tidak selalu berupa benda konkret yang solid, namun bisa juga berupa produk abstrak, seperti cerita, lagu, bahasa, mantra, dan sebagainya. Levi-Strauss meneliti ‘artefak’ berupa mite. Mite ini merupakan bentuk dasar dari cerita rakyat. Dari mite yang dianalisis, akan tampak karakter kekhasan masing-masing mite. Mite pada masyarakat yang satu akan berbeda dengan mite pada masyarakat laut. Masyarakat nelayan memiliki karakter mite yang berbeda dengan masyarakat petani. Mite akan menjadi semacam refleksi mengenai nilai-nilai, keintiman/keakraban, bahkan hukum/pantangan, tabu, dan hal-hal lain yang menggambarkan bagaimana suatu masyarakat memaknai kehidupannya.
Berangkat dari asumsi bahwa mite bisa berfungsi semacam ‘artefak’ yang merefleksikan masyarakat pemiliknya, maka bahasa merupakan hal yang sangat penting. Kekuatan suatu cerita tidak semata-mata berada pada penokohan dan pelakonan, namun juga pada bahasa yang digunakan. Bahasa yang dimaksud disini adalah bahasa yang digunakan sebagai alat komunikasi. Maka terjadi dua jalur komunikasi, di dalam cerita itu sendiri dan dari cerita itu kepada pemirsa. Analisis struktural terhadap mite, sebagaimana yang dilakukan oleh Levi-Strauss maupun oleh Ahimsa-Putra terhadap mite, menunjukkan bahwa penelaahan secara struktural terhadap mite dapat menyajikan hasil bahasan yang tak kalah mendalam dibandingkan penelitian kualitatif yang mendalam (indepth) selama bertahun-tahun di masyarakat pemilik mite tersebut. Meskipun demikian, seperti halnya secara hati-hati diingatkan oleh Ahimsa-Putra dalam buku “Strukturalisme Levi-Strauss : Mitos dan Karya Sastra”, pemahaman struktural melalui artefak berupa mite dari masyarakat tersebut tetap harus dikuatkan dengan pemahaman yang baik terhadap kehidupan masyarakat itu sendiri.

Tidak ada komentar: