Jika Levi
Strauss menganalisa mitos orang Indian di Amerika Utara, maka Heddy melakukan
hal yang sama pada orang Bajo di Indonesia. Menganalisa berarti
menginterpretasikan, proses memaknai suatu kebudayaan masyarakat. Alat
analisanya berupa mitos yang banyak tersebar di masyarakat. Apabila hendak
memahami kehidupan suatu masyarakat maka perhatikan dan pahami mitos yang
beredar. Dalam buku “Strukturalisme Levi-Strauss : Mitos dan Karya Sastra”,
mitos dapat dipergunakan sebagai salah satu pintu untuk memahami budaya
masyarakat pemilik mitos tersebut. Namun mitos juga hanya dapat dipahami dengan
baik jika mengetahui budaya masyarakat yang bersangkutan. Dalam proses
interpretasi terhadap sebuah mitos yang terjadi sebenarnya adalah sebuah gerak
dialektis dari data kebudayaan ke mitos itu sendiri, dan dari satu bagian ke
keseluruhan, part to the whole dan whole to the part. Proses dialektis
semacam ini terjadi dalam proses interpretasi terhadap mitos dan kebudayaan. (Heddy
Shri Ahimsa Putra, Strukturalisme Levi Strauss: mitos dan karya sastra, hal 257,
tahun 200, Galang Press).
Saya belum
pernah menginjakkan kaki di kehidupan masyarakat Bajo. Namun dari pemaparan dalam
buku “Strukturalisme Levi-Strauss : Mitos dan Karya Sastra”, dalam analisis
struktural dongeng Bajo, saya menangkap sesuatu yang amat penting bagi
masyarakat Bajo. Sesuatu itu adalah laut. Masyarakat Bajo tidak pernah lepas
dari lautan. Mereka adalah suku pengembara. Imajinasi saya langsung merujuk
pada siklus kelahiran orang Jawa, ari-ari
(plasenta) orang Jawa dikubur di depan rumah, mungkin inilah yang menyebab
orang Jawa tidak punya tradisi merantau. Orang Jawa punya konsep sangkan paraning dumadi dan kakang
kawah adi ari-ari, yang merujuk pada proses kelahiran, kembali kepada awal
mula kehidupan, biasanya orang jawa setelah meninggal selalu minta dikuburkan
di tempat kelahiran karena ari-ari
nya dikubur di rumah. Berbeda dengan orang Bajo. Mungkin ari-ari nya dilarung ke laut sehingga akhirnya mereka menjadi
pengembara.
Mite sebagai
bagian dari cerita rakyat merupakan manifestasi dari struktur alam pikir
masyarakat pemilik mite tersebut. Sesuatu yang rekat dalam kehidupan masyarakat
akan termanifestasi kembali melalui mite tersebut. Alam pikir masyarakat terbentuk melalui
bagaimana mereka memaknai lingkungan disekitarnya. Realitaslah yang
mempengaruhi kesadaran. Mungkin pernyataan ini mirip dengan strukturalisme
Marxian. Bedanya, strukturalisme Marxian hanya menekankan pada mode produksi
sebagai pembentuk kesadaran kelas. Sedangkan strukturalisme secara umum
menempatkan realitas sebagai pembentuk struktur pikiran. Apa yang ada dalam
alam pikir masyarakat dapat dilihat dari ‘artefak’ yang dihasilkan masyarakat
itu sendiri. Artefak yang dimaksud tidak selalu berupa benda konkret yang
solid, namun bisa juga berupa produk abstrak, seperti cerita, lagu, bahasa,
mantra, dan sebagainya. Levi-Strauss meneliti ‘artefak’ berupa mite. Mite ini
merupakan bentuk dasar dari cerita rakyat. Dari mite yang dianalisis, akan
tampak karakter kekhasan masing-masing mite. Mite pada masyarakat yang satu
akan berbeda dengan mite pada masyarakat laut. Masyarakat nelayan memiliki
karakter mite yang berbeda dengan masyarakat petani. Mite akan menjadi semacam
refleksi mengenai nilai-nilai, keintiman/keakraban, bahkan hukum/pantangan, tabu,
dan hal-hal lain yang menggambarkan bagaimana suatu masyarakat memaknai
kehidupannya.
Berangkat
dari asumsi bahwa mite bisa berfungsi semacam ‘artefak’ yang merefleksikan
masyarakat pemiliknya, maka bahasa merupakan hal yang sangat penting. Kekuatan
suatu cerita tidak semata-mata berada pada penokohan dan pelakonan, namun juga
pada bahasa yang digunakan. Bahasa yang dimaksud disini adalah bahasa yang
digunakan sebagai alat komunikasi. Maka terjadi dua jalur komunikasi, di dalam
cerita itu sendiri dan dari cerita itu kepada pemirsa. Analisis struktural
terhadap mite, sebagaimana yang dilakukan oleh Levi-Strauss maupun oleh
Ahimsa-Putra terhadap mite, menunjukkan bahwa penelaahan secara struktural
terhadap mite dapat menyajikan hasil bahasan yang tak kalah mendalam
dibandingkan penelitian kualitatif yang mendalam (indepth) selama
bertahun-tahun di masyarakat pemilik mite tersebut. Meskipun demikian, seperti
halnya secara hati-hati diingatkan oleh Ahimsa-Putra dalam buku “Strukturalisme
Levi-Strauss : Mitos dan Karya Sastra”, pemahaman struktural melalui artefak
berupa mite dari masyarakat tersebut tetap harus dikuatkan dengan pemahaman
yang baik terhadap kehidupan masyarakat itu sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar