I.
PENDAHULUAN
Dunia olahraga adalah sebuah arena
kontestasi yang sungguh menyenangkan, sebuah ajang adu sehat, adu bakat, adu
kuat, adu strategi, adu keindahan tubuh, dan terutama adu gengsi. Melalui
olahraga, seorang atlet atau olahragawan akan menunjukkan prestasinya setelah
sekian lama berlatih dan mengolah tubuh sedemikian rupa. Para atlet ini akan
menjaga pola makan dan pola tidur untuk memperoleh tubuh yang sehat dan kuat.
Mereka mengkonsumsi makanan tinggi protein dan kalori serta mengurangi asupan
karbohidrat untuk membentuk tubuh agar lebih proporsional. Maka tak perlu heran
jika atlet atau olahragawan memiliki fisik tubuh yang sehat, kuat, dan berotot.
Olimpiade adalah salah satu
ajang yang mempertemukan manusia dari berbagai latar belakang suku dan ras. Melalui
kegiatan empat tahunan ini, para atlet akan berjuang untuk menunjukkan prestasi
terbaiknya. “Men Sana in Corpore Sano” yang berarti didalam tubuh yang sehat
terdapat jiwa yang kuat adalah slogan yang sudah sering kita dengar mungkin
sejak di sekolah dasar. Slogan ini menjadi ikon olimpiade saat pertama kali
diselenggarakan di Yunani beberapa abad yang lampau. Selain ungkapan “Men Sana
in Corpore Sano” ini, masih ada lagi semboyan olimpiade yaitu: Citius, Altius,
Fortius, (tercepat, tertinggi, terkuat). Judo, Pancalomba, Dayung, Berlayar, Menembak,
Tenis Meja, Taekwondo, Tenis, Triathlon, Bola Voli, Angkat Besi, Gulat, Olahraga
air, Atletik, Panahan, Bulu Tangkis, Bola Basket, Tinju, Canoe / kayak, Olahraga
Sepeda, Berkuda, Anggar, Sepakbola, Senam, Bola Tangan, dan Hoki adalah
jenis-jenis olahraga yang dipertandingan dalam olimpiade.
Indonesia, dalam ajang olimpiade
di London, Inggris pada tanggal 27 Juli hingga 12 Agustus 2012 nanti akan
mengirimkan 21 atlet yang terdiri atas 9 pebulu tangkis, 6 lifter angkat besi,
2 atlet dari cabang atletik, dan masing-masing 1 atlet dari setiap cabang
renang, anggar, panahan, dan menembak. Hingga saat ini cabang bulu tangkis
masih menjadi andalan Indonesia dalam meraup pundi-pundi emas olimpiade. Di
cabang bulu tangkis ini, pesaing terkuat Indonesia adalah Cina, Korea, Jepang,
dan beberapa negara Asia lainnya.
Namun, Tahukah anda? Mengapa olah raga basket
didominasi atlet bertubuh tinggi besar dari Amerika? Sedangkan oleh raga yang
berhubungan dengan ketangkasan seperti bulu tangkis dan tenis meja didominasi
oleh atlet asal Asia? Dan mengapa antropologi perlu mempelajari tubuh?
II.
KERANGKA PEMIKIRAN
Bryan S Turner membagi ke dalam
2 penyebab. Pertama: Tubuh mempunyai kajian yang berkaitan erat dengan manusia,
khususnya sisi evolusi manusia sebagai makhluk mamalia berdarah hangat. Evolusi
merupakan salah satu strategi adaptasi sekaligus survival terhadap berbagai
bentuk perubahan alam. Kata “Manusia” disini bermakna “humanitas”, yang
mempunyai kecondongan gerak ke arah pemaknaan manusia secara sosial. Makna
tubuh manusia secara sosial dapat kita lihat pada beberapa studi kasus gender
misalnya. Kedua, Antropologi mempunyai kajian yang mampu menghubungkan antara
dua entitas yang selama ini selalu berada pada posisi mendua, yakni nature dan culture. Perkembangan evolusi merupakan salah satu contoh yang
cukup jelas betapa manusia mengalami perkembangan dikarenakan keterkaitan antar
alam dan budaya manusia yang sifatnya disjungtif (saling timbal balik).
Beberapa antropolog yang menaruh
perhatian terhadap studi tubuh diantaranya adalah :
1)
Franz Boaz
Ø Di awal abad 20, Boaz
memunculkan ide mengenai relativisme budaya. Manusia adalah makhluk alam (human nature) yang mempunyai relativisme
kebudayaan pada masing-masing area. Boaz menentang adanya budaya yang lebih
luhur atau lebih rendah. Relativisme kebudayaan ini, oleh boaz dikembangkan
dalam penelitan relativisme perbedaan ras.
Ø Kajian tubuh berdasarkan ras,
dikembangkan oleh Boaz hanya terkonsentrasi pada ukuran bentuk tengkorak manusia
(Anthropometri). Boaz meneliti tulang tengkorak pada bagian sisi kepala kiri
anak-anak migran yang dilahirkan di USA. Pada anak migran keturunan Eropa timur
dan selatan, mempunyai indeks ukuran batok kepala (cephalix) lebih besar dan memanjang serta lebih membundar di
banding batok kepala milik sang ayah. Ukuran yang dikembangkan oleh Boaz ini
tidak dilanjutkan hingga ke prasangka rasial yang negatif.
2)
Marcell Mauss:
Ø Teknik tubuh ala Marcell Mauss
adalah cara dimana pada tiap-tipa masyarakat tahu dalam menggunakan tubuh
mereka sebagai instrumen yang bisa dipelejari. Seperti bernafas, berenang,
berlari hingga berlari.
Ø Mauss membagi klasifikasi teknik
tubuh ke dalam dua bagian yakni:
a)
Didasarkan
pada latar belakang gender (maskulin-feminin).
b)
Didasarkan
pada kronologi usia manusia. Seperti teknik melahirkan, teknik memasuki masa
dewasa dan seterusnya. Pandangan mauss ini kemudian diikuti oleh Mead diakhir
tahun 40 an.
3)
Bronislaw Kaspar Malinowski
Ø Teori kebudayaan Malinowski
berdasarkan komparasi dengan tubuh secara biologis. Kebudayaan merupakan
instrumen esensial untuk pemenuhan ketubuhan.
misal: Sistem keagamaan berguna untuk kenyamanan dan
perlindungan; sistem ekonomi berguna untuk metabolisme dan pemenuhan nutrisi;
perkawinan berguna untuk berfungsinya alat reproduksi; kontrol sosial berguna
untuk kenyamanan tubuh; sistem pendidikan berguna untuk relaksasi, dst.
Ø Dalam bukunya Sex and Repression in Savage Society
(1927) dan The Sexual Life of Savages
(1929), Malinowski menyimpulkan bahwa seks lebih sosiologis dan kulutral
dibanding hanya sekedar relasi pertemuan dua tubuh. Seks merupakan kebahagiaan
tertinggi dari pengalaman “kedagingan” individu.
4)
Margareth Mead
Ø Margerth Mead merupakan
antropolog yang menggabungkan antara kajian psikososial dalam sebuah siklus
perjalanan manusia. Ia melaporkan sebuah penelitian tentang proses perkembangan
bayi Bali.
Ø Gerak tubuh bayi di Bali
dibandingkan dengan gerak tubuh bayi di New Haven, USA. Pada bayi di Bali jarak
kronologi gerak, lebih lebar. Dalam artian mereka merayap dan langsung ke
proses jongkok. Gerak merangkak terlewati sehingga unsur menangis dalam proses
tersebut terlewatkan pula. Hal ini disebut oleh mead sebagai Hyperextension. Implikasi yang terjadi
menurut Mead adalah bayi di Bali mempunyai tingkat kemandirian dan gerak yang
lebih luwes ketika menginjak masa remaja dan dewasa.
Ø Secara general, dalam
pertumbuhan tubuh, bayi akan melewati proses merayap (frogging); merangkak (creeping);
jongkok (squatting); berdiri (standing); berjalan (walking).
5)
Arnold Van Gennep
Ø Tubuh sebagai simbol transisi
sosial individu dalam masyarakat. Tubuh sosial terpahat di dalam tubuh fisik.
Dalam hal ini tubuh tidak berada di sana dan tidak berada di sini (neither here nor there).
Misal: - Upacara penyunatan - Klitoridektomi
-
Upacara perataan gigi -
Tato Mentawai
Ø Pasca masa krisis bagian tubuh
berubah, tidak hanya secara fisik semata, namun juga secara sosial. Sehingga
timbul hak dan kewajiban baru individu dalam masyarakat.
6)
Mary Douglas
Ø Tubuh merupakan ranah dimana
arus balik interaksi terjadi. Tubuh menyediakan dirinya sebagai medium dalam
sebuah struktur sosial dimana ia mampu menjadi sebuah image.
Ø Tubuh mempunyai struktur fungsi
yang kompleks. Dari tiap-tiap bagian tubuh mempunyai fungsi simbol dan relasi
yang berbeda. Mis: Simbol tubuh yang digambarkan sebagai sampah adalah urine,
potongan, kuku dan tinja.
7)
Michel Foucault:
Ø Modernitas membuat tubuh
masyarakat pada esensinya bersifat disipliner. Hal ini bisa terlihat pada
bengkel kerja, sekolah, barak militer, penjara.
Ø Tubuh yang didisiplinkan,
melalui empat hal:
a)
Seni
penyebaran (art of distribution):
Menempatkan tubuh individu pada masing-masing fungsi.
b)
Kontrol
Aktivitas (The control of Activity)
Dalam setiap ruang lingkup
kerja, tubuh diharuskan tepat waktu; Tubuh dibentuk seusai ritme yang teratur.
c)
Strategi
untuk menambah waktu (The organization of
Geneses):
Tubuh dibedakan melalui penyusunan program secara
bertingkat.
Misal: Kelas I, kelas 2, kelas 3.
d)
Tubuh
sebagai kekuatan yang Tersusun (The
Composition of Forces)
Konfigurasi pasukan; Perbedaan
dalam kelas berdasarkan kecerdasan, ketangkasan hingga kekuatan.
8)
Bryan S Turner
Ø Tubuh sebagai persoalan
reproduksi.
Ø Tubuh internal sebagia media
pengekang hasrat
Misal: Asketisme; selibat.
Ø Di awal abad 20, tubuh mengalami
perubahan yang ditandai dengan 3 fenomena:
·
Munculnya
post fordisme. Pasca industri memasuki ruang jasa dan perdagangan. Tubuh
dimanjakan sehingga mampu merubah konsep tubuh cantik; tubuh fit hingga tubuh
sporty.
·
Munculnya
Feminisme. Kesetaraan antara tubuh laki-laki dan perempuan.
·
Meningkatnya
jumlah populasi dunia, sehingga jumlah manusia dan gerak seksualitas tubuh
menjadi terkendalikan.
misal: One Child Policy di
China; Keluarga Berencana di Indonesia.
9)
Arthur Frank
Ø Tubuh yang Disiplin: Tubuh yang
diawasi dan diatur.
Ø Tubuh yang bercermin: Tubuh yang
melakukan konsumsi
Misal: Pembelanjaan kosmetika;
sabun kecantikan dll.
Ø Tubuh yang mendominasi: Tubuh
yang mempunyai komando; kharisma dan kekuasaan.
Ø Tubuh yang Berkomunikasi: Medium
tampak dalam bentuk penyadaran.
Misal: Ritual
III.
PENERAPAN ILMU PENGETAHUAN DALAM
OLAHRAGA
Selama ini jika kita mendengar
istilah kata “science” maka pikiran kita akan merujuk pada teknologi canggih
tingkat tinggi, sehingga ada semacam keengganan kalau tidak mau dikatakan malas
untuk memahami apa ari kata “science” sesungguhnya. Science bukanlah sesuatu
yang jauh di awang-awang dan sulit untuk dilakukan, namun science ada
disekeliling kita, ada dalam kehidupan sehari-hari, dari hal yang sangat
sederhana sampai kepada hal-hal yang lebih kompleks dan rumit. Hanya saja
memang pemahaman kita tentang science perlu ditingkatkan. Pemahaman sederhana
tentang science sangat perlu dan harus diketahui oleh para pelaku olahraga
sebagai landasan yang benar dan tepat dalam melakukan aktivitas olahraga. Jadi,
jika mau berprestasi sampai tingkat internasional, maka penerapan ilmu
pengetahuan dalam olahraga harus diterapkan dalam pembinaan dan pelatihan untuk
atlet.
Ilmu pengetahuan adalah landasan
penguasaan dari sebuah penalaran manusia. Pemahaman-pemahaman baru diperoleh
dari suatu proses pemikiran, penalaran, dan penelitian sehingga menghasilkan
suatu data analisa yang utuh, komplit, serta empiric yang dapat
dipertanggungjawabkan secara ilmiah akademis. Penguasaan teknologi harus
dimiliki jika ingin memperlihatkan eksistensi diri di era persaingan global
saat ini. Bahkan penguasaan teknologi menjadi indikator kesuksesan di semua
bidang, baik di bidang industri, pertanian, kesehatan, dan bahkan di bidang
olahraga.
Hal spesifik
yang menjadi dasar
pemikiran dari sport
science adalah diskusi mendalam
kebutuhan atlet secara
individual. Proses ini
merupakan ranah atlet
dan pelatih dan
performa atlit. Untuk kebanyakan
atlet, informasi didapat dari adanya
pengukuran yang dilakukan secara berkala mengikuti program latihan yang
telah dibuat. Jika memungkinkan dilihat perlu,
seorang ilmuwan akan melakukan pengukuran dengan acuan dari literatur terbaru, dimana alat ukur
tersebut telah digunakan oleh organisasi olahraga yang bersangkutan. Seorang
ilmuwan olahraga harus dapat memastikan adanya pengukuran yang memenuhi unsur:
a)
Informasi
yang valid
b)
Gerakan
yang spesifik pada olahraga tertentu.
c)
Kesimpulan/hasil
yang dapat dipertanggung jawabkan atau reliabel
d)
Sensitif
dalam mendeteksi perubahan kecil pada area yang sedang diukur/dites
Data yang diperoleh dapat dibandingkan
dengan respon atlit dengan menggunakan alat ukur yang sama, sehingga optimal
dalam penilaian teori dan data
terbaru yang dapat dibukukan pada atlet tersebut. Informasi ini dapat
dipergunakan untuk:
a)
Mengevaluasi
kekuatan dan kelemahan atlet yang berhubungan dengan kecabangannya.
b)
Mengukur
keefektifan program latihan
c)
Menyediakan
sasaran jangka pendek
d)
Mengevaluasi
status kesehatan atlet
e)
Mengidentifikasi kesiapan
atlit baik dalam
latihan maupun dalam pertandingan.
Secara umum sport science ada 5
cabang yaitu:
1.
Fisiologi
Fisiologi merupakan area yang
mendapat perhatian besar dalam sport science
dimana area ini
melihat bagaimana tubuh
atlet beradaptasi, bereaksi dan
berespon dalam latihan dan kegiatan olahraga yang efektif dan aman.
Memahami Ilmu Fisiologi dapat
membantu Atlet:
·
Mengidentifikasi
kelemahan dan kekuatan melalui tes kebugaran.
·
Membuat
evaluasi apakah periode latihan telah berhasil atau tidak.
·
Membuat struktur
dan mengembangkan teknik
latihan untuk adaptasi yang
optimal.
2.
Psikologi
Psikologi merupakan area dari
sport science yang berhubungan dengan pikiran, perasaan, emosi atlet yang
biasanya disebut dengan mental. Area
ini berhubungan dengan motivasi, kepercayaan diri, emosi yang
dapat mempengaruhi performa dan perilaku atlet baik dilatihan maupun
dipertandingan. Perkembangan bidang ini dalam olahraga prestasi berkembang
dengan sangat pesat karena diyakini dapat meningkatkan performa atlet. Bahkan
dalam berbagai tulisan psikologi olahraga dikatakan “80 % kemenangan atlet
ditentukan oleh faktor mental”. Artinya faktor mental memegang peranan yang
sangat penting dalam menentukan prestasi seorang atlet.
Ilmu Psikologi dapat membantu
atlet dalam:
- Mampu tampil dengan baik/lebih baik dan konsisten
- Meningkatkan kualitas pengalaman dalam pertandingan.
- Mengembangkan dan meningkatkan kapasitas mental yang baik dalam latihan maaupun pertandingan
3.
Biomekanik
Biomekanik merupakan studi yang mempelajari
tentang mekanisme system biologis yang dalam hal ini adalah gerakan. Biomekanik
merupakan area yang berhubungan dengan analisa dari gerakan manusia. Area ini
menjelaskan tentang bagaimana dan mengapa tubuh
manusia bergerak dengan cara sedemikian rupa. Bagi olahragawan hal ini sangat
diperlukan agar memahami dengan baik mana gerakan yang baik dan berguna serta efisien.
Juga berguna dalam mempelajari interaksi antara peralatan yang digunakan dalam olahraga
tertentu serta lingkungan yang digelutinya. Implementasi sport biomechanic di negara-negara
yang prestasi olahraganya baik sudah diterapkan dengan baik dan merupakan
bagian dari sistem pelatihan.
Biomekanik dapat
membantu atlet dalam:
- Mengidentifikasi teknik terbaik untuk meningkatkan performa atlit
- Menjelaskan cara-cara yang aman dalam melakukan gerakan yang efektif untuk menghindari resiko cedera pada atlit.
- Menyediakan/memberikan analisa mendalam pada peralatan olahraga yang dipakai oleh para atlit
4.
Nutrisi
Sangatlah penting untuk mengkunsumsi makanan yang cukup dan seimbang
setiap hari untuk menjaga agar tubuh tetap sehat. Asupan nutrisi yang seimbang
dan tepat merupakan kunci kesuksesan performa atlet. Kombinasi kalori yang
tepat antara asupan karbohidrat, protein, dan lemak akan menghasilkan energi yang
menunjang performa maksimal seorang atlet Nutrisi yang tidak tepat akan
menyebabkan cedera dan mengambat proses pemulihan pada atlet setelah melakukan
aktivitas latihan atau pertandingan. Asupan
glycogen (seperti karbohidrat, roti, pasta, dan lain-lain) yang kurang
pada saat latihan dapat menyebabkan
kekurangan glycogen kronis, jika hal ini terjadi selama beberapa periode dapat menimbulkan
cedera pada jaringan
tubuh. Hasil penelitian menunjukkan, tubuh sangat tergantung pada lemak dan protein, dimana lemak
dan protein merupakan cadangan energi alternatif yang dapat meningkatkan protein
dalam otot.
5.
Kedokteran
Olahraga
Kedokteran olahraga menjadi bagian yang penting dalam aktivitas
olahraga terutama olahraga yang dituntut prestasi. Dalam kedokteran olahraga
meliputi beberapa bidang penting diantaranya:
Ø
Pemeliharaan
kesehatan atlet
Ø
Penanganan
cedera
Ø
Pemulihan
cedera
Ø
Doping
Ø
Terapi
Ø
Massase
Ø
Nutris
Lantas dimana peranan ilmu antropologi? Apakah memang tidak
punya peran signifikan dalam kehidupan sehari-hari? Pertanyaan-pertanyaan ini
muncul menyeruak begitu saja dalam pikiran saya, dan mungkin juga teman-teman
yang lain yang sedang belajar ilmu antropologi.
Penguasaan akan konsep kultur (culture) memang sesuatu yang sangat mendasar keperluannya bagi
antropologi dan harus dikuasai, termasuk antropologi terapan. Saya punya
kecenderungan pribadi, bahwa untuk antropologi terapan, khususnya lagi untuk
bidang antropologi pembangunan (development
anthropology), saya lebih tertarik kepada aliran cultural studies yang lebih berkembang di Inggris, atau lebih
khusus lagi cultural developmentalism.
Semua yang disebut oleh Prof. Koentjaraningrat dengan istilah “kebudayaan”,
“sistem nilai-budaya”, dan “sikap mental” adalah termasuk kedalam konsep
kultur, menurut aliran cultural
developmentalism.
Kultur dalam kajian-kajian cultural development adalah “sistem ideasional”, atau “sistem
gagasan”, atau the state of mind yang
mendorong pola perilaku yang khas pada suatu kelompok sosial tertentu. Kultur,
pada satu saat berada pada posisi independent
variable bila dikaitkan dengan kemajuan perekonomian suatu masyarakat. Namun
di saat lain, untuk mencapai kemajuan perekonomian tersebut kultur-pun bisa direkayasa
melalui public policy, dan kultur
berubah menjadi dependent variable. Tempat yang pas bagi kultur adalah seperti
yang diungkapkan oleh Daniel Patrict Moynihan, bahwa “The central conservative truth is that it is culture, not politics,
that determines the success of a society. The central liberal truth is that
politics can change a culture and save it from itself” (dikutip dalam
Huntington 2000:xiv).
Aliran cultural developmentalism cukup mengartikan kultur
secara umum seperti itu. Mereka tidak terlalu pusing apakah kultur itu ada di
dalam otak manusia (seperti pendapat aliran antropologi kognitif) atau di arena
publik di luar diri manusia (seperti pendapat Geertz); atau apakah kultur itu
berstruktur serba-dua (menurut Levi-Strauss) atau serba-empat (menurut
strukturalisme Belanda), atau cukup bersistem saja (menurut aliran materialisme
kultural).
IV.
PENUTUP
Antropologi terapan adalah satu
bidang dalam ilmu antropologi di mana pengetahuan (knowledge), ketrampilan (skills),
dan sudut-pandang (perspective) ilmu
antropologi digunakan untuk menolong mencari solusi bagi masalah-masalah
praktis kemanusiaan dan memfasilitasi kebutuhan pembangunan. Ada juga orang
yang mendefinisikan antropologi terapan sebagai “the field of inquiry which is concerned with the relationships between
anthropological knowledge and the uses of that knowledge in the world beyond
anthropology” (Chambers 1989:x). Secara strategis, dalam kajian-kajian
antropologi terapan, antropolog harus memperlihatkan bagaimana konsep teoritis
diterapkan secara empiris ke dalam kenyataan sehari-hari, yang pada gilirannya
analisis empiris ini akan berguna untuk keperluan praktis dan sekaligus
memberikan umpan-balik bagi pengembangan teori dan konsep antropologi. Jadi
dalam antropologi terapan, teori dan praktis adalah saling memperkuat secara
dialektis.
Yang diperlukan dalam suatu
tindakan salah satunya adalah aksi afirmatif atau di Eropa dikenal sebagai
diskriminasi positif yang menunjuk kepada kebijakan yang bertujuan untuk
menyebarluaskan akses ke pendidikan atau pekerjaan bagi kelompok non-dominan
secara sosial-politik berdasarkan sejarah (terutama minoritas atau perempuan).
Motivasi untuk aksi afirmatif adalah mengurangi efek diskriminasi dan untuk
mendorong institusi publik seperti universitas, rumah sakit, dan polisi untuk
lebih dapat mewakili populasi (http://plato.stanford.edu/entries/affirmative-action)
Dalam kaitannya dengan
olimpiade, dalam cabang berenang harusnya yang dikirim adalah orang Bajo. Sejak
lahir, orang Bajo ini sudah dikenalkan dengan kultur maritim, mereka terkenal
jago berenang bahkan ada yang mengatakan bahwa paru-paru orang Bajo sebagian
besar mirip insang pada ikan. Dengan kemampuan sejak lahir ini, tidak menutup
kemungkinan bahwa mereka akan mampu menyumbang medali emas bagi kontingen
Indonesia di olimpiade. Sedangkan cabang menembak dan panahan, orang dayak atau
orang papua memiliki pengalaman yang tak meragukan lagi. Ketepatan bidikan
mereka dalam memburu binatang buruan tak bisa diremehkan. Orang Dayak dan orang
Papua sudah terbiasa di kehidupan sehari-harinya dengan panah ataupun sumpit.
Jika mereka diberi kesempatan mengikuti olimpiade, tidak menutup kemungkinan
juga mereka bakal menyumbang emas.
Perlu diingat juga bahwa setiap
ilmu terapan adalah dilandasi oleh satu nilai tertentu. Sementara itu science
menuntut objektifitas, tidak subjektif, dan tidak berpihak dan menjunjung
tinggi nilai kemanusiaan. Antropologi terapan secara historis lahir bersama
dengan pandangan etnosentrisme Ero-Amerika. Antropologi terapan Indonesia, jika
berkembang, juga punya kemungkinan kecenderungan akan diwarnai oleh Indonesia
sentris, atau mungkin Jawa sentris.
BAHAN BACAAN
Benedict, Ruth.
1962 Pola-pola Kebudajaan. (terjemahan ke
dalam bahasa Indonesia) Jakarta: Penerbit Pustaka Rakjat
Koentjaraningrat
1974 Kebudayaan, Mentalitas, dan Pembangunan. Jakarta:
Gramedia
Lubis, Mochtar.
1977 Manusia
Indonesia (Sebuah pertanggungan jawab). Jakarta: Inti Idayu Press
Tim
Penyusun Sport Science KONI Pusat,
2012 Pemahaman Dasar Sport Science dan Penerapan
Iptek Olahraga
Kompas edisi Jumat
13 Juli 2012 dalam kolom olahraga
Kompas edisi
Minggu 15 Juli 2012 dalam kolom olahraga
Tidak ada komentar:
Posting Komentar