31 Maret 2014

OLIMPIADE: Pesta Olahraga Yang Sakral Menjadi Profan



I.            PENDAHULUAN
Dunia olahraga adalah sebuah arena kontestasi yang sungguh menyenangkan, sebuah ajang adu sehat, adu bakat, adu kuat, adu strategi, adu keindahan tubuh, dan terutama adu gengsi. Melalui olahraga, seorang atlet atau olahragawan akan menunjukkan prestasinya setelah sekian lama berlatih dan mengolah tubuh sedemikian rupa. Para atlet ini akan menjaga pola makan dan pola tidur untuk memperoleh tubuh yang sehat dan kuat. Mereka mengkonsumsi makanan tinggi protein dan kalori serta mengurangi asupan karbohidrat untuk membentuk tubuh agar lebih proporsional. Maka tak perlu heran jika atlet atau olahragawan memiliki fisik tubuh yang sehat, kuat, dan berotot.
Olimpiade adalah salah satu ajang yang mempertemukan manusia dari berbagai latar belakang suku dan ras. Melalui kegiatan empat tahunan ini, para atlet akan berjuang untuk menunjukkan prestasi terbaiknya. “Men Sana in Corpore Sano” yang berarti didalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat adalah slogan yang sudah sering kita dengar mungkin sejak di sekolah dasar. Slogan ini menjadi ikon olimpiade saat pertama kali diselenggarakan di Yunani beberapa abad yang lampau. Selain ungkapan “Men Sana in Corpore Sano” ini, masih ada lagi semboyan olimpiade yaitu: Citius, Altius, Fortius, (tercepat, tertinggi, terkuat). Judo, Pancalomba, Dayung, Berlayar, Menembak, Tenis Meja, Taekwondo, Tenis, Triathlon, Bola Voli, Angkat Besi, Gulat, Olahraga air, Atletik, Panahan, Bulu Tangkis, Bola Basket, Tinju, Canoe / kayak, Olahraga Sepeda, Berkuda, Anggar, Sepakbola, Senam, Bola Tangan, dan Hoki adalah jenis-jenis olahraga yang dipertandingan dalam olimpiade.
Indonesia, dalam ajang olimpiade di London, Inggris pada tanggal 27 Juli hingga 12 Agustus 2012 nanti akan mengirimkan 21 atlet yang terdiri atas 9 pebulu tangkis, 6 lifter angkat besi, 2 atlet dari cabang atletik, dan masing-masing 1 atlet dari setiap cabang renang, anggar, panahan, dan menembak. Hingga saat ini cabang bulu tangkis masih menjadi andalan Indonesia dalam meraup pundi-pundi emas olimpiade. Di cabang bulu tangkis ini, pesaing terkuat Indonesia adalah Cina, Korea, Jepang, dan beberapa negara Asia lainnya.
 Namun, Tahukah anda? Mengapa olah raga basket didominasi atlet bertubuh tinggi besar dari Amerika? Sedangkan oleh raga yang berhubungan dengan ketangkasan seperti bulu tangkis dan tenis meja didominasi oleh atlet asal Asia? Dan mengapa antropologi perlu mempelajari tubuh?
II.            KERANGKA PEMIKIRAN
Bryan S Turner membagi ke dalam 2 penyebab. Pertama: Tubuh mempunyai kajian yang berkaitan erat dengan manusia, khususnya sisi evolusi manusia sebagai makhluk mamalia berdarah hangat. Evolusi merupakan salah satu strategi adaptasi sekaligus survival terhadap berbagai bentuk perubahan alam. Kata “Manusia” disini bermakna “humanitas”, yang mempunyai kecondongan gerak ke arah pemaknaan manusia secara sosial. Makna tubuh manusia secara sosial dapat kita lihat pada beberapa studi kasus gender misalnya. Kedua, Antropologi mempunyai kajian yang mampu menghubungkan antara dua entitas yang selama ini selalu berada pada posisi mendua, yakni nature dan culture. Perkembangan evolusi merupakan salah satu contoh yang cukup jelas betapa manusia mengalami perkembangan dikarenakan keterkaitan antar alam dan budaya manusia yang sifatnya disjungtif (saling timbal balik).
Beberapa antropolog yang menaruh perhatian terhadap studi tubuh diantaranya adalah :
1)       Franz Boaz
Ø  Di awal abad 20, Boaz memunculkan ide mengenai relativisme budaya. Manusia adalah makhluk alam (human nature) yang mempunyai relativisme kebudayaan pada masing-masing area. Boaz menentang adanya budaya yang lebih luhur atau lebih rendah. Relativisme kebudayaan ini, oleh boaz dikembangkan dalam penelitan relativisme perbedaan ras.
Ø  Kajian tubuh berdasarkan ras, dikembangkan oleh Boaz hanya terkonsentrasi pada ukuran bentuk tengkorak manusia (Anthropometri). Boaz meneliti tulang tengkorak pada bagian sisi kepala kiri anak-anak migran yang dilahirkan di USA. Pada anak migran keturunan Eropa timur dan selatan, mempunyai indeks ukuran batok kepala (cephalix) lebih besar dan memanjang serta lebih membundar di banding batok kepala milik sang ayah. Ukuran yang dikembangkan oleh Boaz ini tidak dilanjutkan hingga ke prasangka rasial yang negatif.
2)             Marcell Mauss:
Ø  Teknik tubuh ala Marcell Mauss adalah cara dimana pada tiap-tipa masyarakat tahu dalam menggunakan tubuh mereka sebagai instrumen yang bisa dipelejari. Seperti bernafas, berenang, berlari hingga berlari.
Ø  Mauss membagi klasifikasi teknik tubuh ke dalam dua bagian yakni:
a)      Didasarkan pada latar belakang gender (maskulin-feminin).
b)      Didasarkan pada kronologi usia manusia. Seperti teknik melahirkan, teknik memasuki masa dewasa dan seterusnya. Pandangan mauss ini kemudian diikuti oleh Mead diakhir tahun 40 an.
3)             Bronislaw Kaspar Malinowski
Ø  Teori kebudayaan Malinowski berdasarkan komparasi dengan tubuh secara biologis. Kebudayaan merupakan instrumen esensial untuk pemenuhan ketubuhan.
misal:   Sistem keagamaan berguna untuk kenyamanan dan perlindungan; sistem ekonomi berguna untuk metabolisme dan pemenuhan nutrisi; perkawinan berguna untuk berfungsinya alat reproduksi; kontrol sosial berguna untuk kenyamanan tubuh; sistem pendidikan berguna untuk relaksasi, dst.  
Ø  Dalam bukunya Sex and Repression in Savage Society (1927) dan The Sexual Life of Savages (1929), Malinowski menyimpulkan bahwa seks lebih sosiologis dan kulutral dibanding hanya sekedar relasi pertemuan dua tubuh. Seks merupakan kebahagiaan tertinggi dari pengalaman “kedagingan” individu. 
4)              Margareth Mead
Ø  Margerth Mead merupakan antropolog yang menggabungkan antara kajian psikososial dalam sebuah siklus perjalanan manusia. Ia melaporkan sebuah penelitian tentang proses perkembangan bayi Bali.
Ø  Gerak tubuh bayi di Bali dibandingkan dengan gerak tubuh bayi di New Haven, USA. Pada bayi di Bali jarak kronologi gerak, lebih lebar. Dalam artian mereka merayap dan langsung ke proses jongkok. Gerak merangkak terlewati sehingga unsur menangis dalam proses tersebut terlewatkan pula. Hal ini disebut oleh mead sebagai Hyperextension. Implikasi yang terjadi menurut Mead adalah bayi di Bali mempunyai tingkat kemandirian dan gerak yang lebih luwes ketika menginjak masa remaja dan dewasa.
Ø  Secara general, dalam pertumbuhan tubuh, bayi akan melewati proses merayap (frogging); merangkak (creeping); jongkok (squatting); berdiri (standing); berjalan (walking).
5)             Arnold Van Gennep
Ø  Tubuh sebagai simbol transisi sosial individu dalam masyarakat. Tubuh sosial terpahat di dalam tubuh fisik. Dalam hal ini tubuh tidak berada di sana dan tidak berada di sini (neither here nor there).
Misal: - Upacara penyunatan                 - Klitoridektomi
                              - Upacara perataan gigi               -  Tato Mentawai
Ø  Pasca masa krisis bagian tubuh berubah, tidak hanya secara fisik semata, namun juga secara sosial. Sehingga timbul hak dan kewajiban baru individu dalam masyarakat.
6)             Mary Douglas
Ø  Tubuh merupakan ranah dimana arus balik interaksi terjadi. Tubuh menyediakan dirinya sebagai medium dalam sebuah struktur sosial dimana ia mampu menjadi sebuah image.
Ø  Tubuh mempunyai struktur fungsi yang kompleks. Dari tiap-tiap bagian tubuh mempunyai fungsi simbol dan relasi yang berbeda. Mis: Simbol tubuh yang digambarkan sebagai sampah adalah urine, potongan, kuku dan tinja.
7)             Michel Foucault:
Ø  Modernitas membuat tubuh masyarakat pada esensinya bersifat disipliner. Hal ini bisa terlihat pada bengkel kerja, sekolah, barak militer, penjara.
Ø  Tubuh yang didisiplinkan, melalui empat hal:
a)      Seni penyebaran (art of distribution): Menempatkan tubuh individu pada masing-masing fungsi.
Misal: Tentara           Barak                    Pasien             Rumah Sakit
                                      Anak Muda            Sekolah       Narapidana             Penjara
b)      Kontrol Aktivitas (The control of Activity)
Dalam setiap ruang lingkup kerja, tubuh diharuskan tepat waktu; Tubuh dibentuk seusai ritme yang teratur.
c)      Strategi untuk menambah waktu (The organization of Geneses):
Tubuh dibedakan melalui penyusunan program secara bertingkat.
Misal: Kelas I, kelas 2, kelas 3.
d)     Tubuh sebagai kekuatan yang Tersusun (The Composition of Forces)
Konfigurasi pasukan; Perbedaan dalam kelas berdasarkan kecerdasan, ketangkasan hingga kekuatan.
8)             Bryan S Turner
Ø  Tubuh sebagai persoalan reproduksi.
Ø  Tubuh internal sebagia media pengekang hasrat
          Misal: Asketisme; selibat.
Ø  Di awal abad 20, tubuh mengalami perubahan yang ditandai dengan 3 fenomena:
·         Munculnya post fordisme. Pasca industri memasuki ruang jasa dan perdagangan. Tubuh dimanjakan sehingga mampu merubah konsep tubuh cantik; tubuh fit hingga tubuh sporty.    
·         Munculnya Feminisme. Kesetaraan antara tubuh laki-laki dan perempuan.
·         Meningkatnya jumlah populasi dunia, sehingga jumlah manusia dan gerak seksualitas tubuh menjadi terkendalikan.
misal: One Child Policy di China; Keluarga Berencana di Indonesia.
9)             Arthur Frank
Ø  Tubuh yang Disiplin: Tubuh yang diawasi dan diatur.
Ø  Tubuh yang bercermin: Tubuh yang melakukan konsumsi
Misal: Pembelanjaan kosmetika; sabun kecantikan dll.
Ø  Tubuh yang mendominasi: Tubuh yang mempunyai komando; kharisma dan kekuasaan.
Ø  Tubuh yang Berkomunikasi: Medium tampak dalam bentuk penyadaran.
Misal: Ritual
III.            PENERAPAN ILMU PENGETAHUAN DALAM OLAHRAGA
Selama ini jika kita mendengar istilah kata “science” maka pikiran kita akan merujuk pada teknologi canggih tingkat tinggi, sehingga ada semacam keengganan kalau tidak mau dikatakan malas untuk memahami apa ari kata “science” sesungguhnya. Science bukanlah sesuatu yang jauh di awang-awang dan sulit untuk dilakukan, namun science ada disekeliling kita, ada dalam kehidupan sehari-hari, dari hal yang sangat sederhana sampai kepada hal-hal yang lebih kompleks dan rumit. Hanya saja memang pemahaman kita tentang science perlu ditingkatkan. Pemahaman sederhana tentang science sangat perlu dan harus diketahui oleh para pelaku olahraga sebagai landasan yang benar dan tepat dalam melakukan aktivitas olahraga. Jadi, jika mau berprestasi sampai tingkat internasional, maka penerapan ilmu pengetahuan dalam olahraga harus diterapkan dalam pembinaan dan pelatihan untuk atlet.
Ilmu pengetahuan adalah landasan penguasaan dari sebuah penalaran manusia. Pemahaman-pemahaman baru diperoleh dari suatu proses pemikiran, penalaran, dan penelitian sehingga menghasilkan suatu data analisa yang utuh, komplit, serta empiric yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah akademis. Penguasaan teknologi harus dimiliki jika ingin memperlihatkan eksistensi diri di era persaingan global saat ini. Bahkan penguasaan teknologi menjadi indikator kesuksesan di semua bidang, baik di bidang industri, pertanian, kesehatan, dan bahkan di bidang olahraga.
Hal  spesifik  yang  menjadi  dasar  pemikiran  dari  sport  science adalah  diskusi  mendalam  kebutuhan  atlet  secara  individual. Proses ini  merupakan  ranah  atlet  dan  pelatih  dan  performa  atlit. Untuk kebanyakan atlet, informasi didapat dari adanya  pengukuran yang dilakukan secara berkala mengikuti program latihan yang telah dibuat. Jika  memungkinkan dilihat perlu, seorang ilmuwan akan melakukan pengukuran dengan acuan  dari literatur terbaru, dimana alat ukur tersebut telah digunakan oleh organisasi olahraga yang bersangkutan. Seorang ilmuwan olahraga harus dapat memastikan adanya pengukuran yang memenuhi unsur:
a)      Informasi yang valid
b)      Gerakan yang spesifik pada olahraga tertentu.
c)      Kesimpulan/hasil yang dapat dipertanggung jawabkan atau reliabel
d)     Sensitif dalam mendeteksi perubahan kecil pada area yang sedang diukur/dites
Data yang diperoleh dapat dibandingkan dengan respon atlit dengan menggunakan alat ukur yang sama, sehingga  optimal  dalam  penilaian teori dan data terbaru yang dapat dibukukan pada atlet tersebut. Informasi ini dapat dipergunakan untuk:
a)      Mengevaluasi kekuatan dan kelemahan atlet yang berhubungan dengan kecabangannya.
b)      Mengukur keefektifan program latihan
c)      Menyediakan sasaran jangka pendek
d)     Mengevaluasi status kesehatan atlet
e)      Mengidentifikasi  kesiapan  atlit  baik  dalam  latihan maupun dalam pertandingan.
Secara umum sport science ada 5 cabang yaitu:
1.      Fisiologi
Fisiologi merupakan area yang mendapat perhatian besar dalam sport science  dimana  area  ini  melihat  bagaimana  tubuh  atlet  beradaptasi, bereaksi dan berespon dalam latihan dan kegiatan olahraga yang efektif dan aman.
Memahami Ilmu Fisiologi dapat membantu Atlet:
·         Mengidentifikasi kelemahan dan kekuatan melalui tes kebugaran.
·         Membuat evaluasi apakah periode latihan telah berhasil atau tidak.
·         Membuat  struktur  dan  mengembangkan  teknik  latihan  untuk adaptasi yang optimal.
2.      Psikologi
Psikologi merupakan area dari sport science yang berhubungan dengan pikiran, perasaan, emosi atlet yang biasanya disebut dengan mental. Area  ini  berhubungan  dengan motivasi, kepercayaan diri, emosi yang dapat mempengaruhi performa dan perilaku atlet baik dilatihan maupun dipertandingan. Perkembangan bidang ini dalam olahraga prestasi berkembang dengan sangat pesat karena diyakini dapat meningkatkan performa atlet. Bahkan dalam berbagai tulisan psikologi olahraga dikatakan “80 % kemenangan atlet ditentukan oleh faktor mental”. Artinya faktor mental memegang peranan yang sangat penting dalam menentukan prestasi seorang atlet.
Ilmu Psikologi dapat membantu atlet dalam:
  • Mampu tampil dengan baik/lebih baik dan konsisten
  • Meningkatkan kualitas pengalaman dalam pertandingan.
  • Mengembangkan dan meningkatkan kapasitas mental yang baik dalam latihan maaupun pertandingan
3.      Biomekanik
Biomekanik merupakan studi yang mempelajari tentang mekanisme system biologis yang dalam hal ini adalah gerakan. Biomekanik merupakan area yang berhubungan dengan analisa dari gerakan manusia. Area ini menjelaskan tentang bagaimana dan mengapa tubuh  manusia bergerak dengan cara sedemikian rupa. Bagi olahragawan hal ini sangat diperlukan agar memahami dengan baik mana gerakan yang baik dan berguna serta efisien. Juga berguna dalam mempelajari interaksi antara peralatan yang digunakan dalam olahraga tertentu serta lingkungan yang digelutinya. Implementasi sport biomechanic di negara-negara yang prestasi olahraganya baik sudah diterapkan dengan baik dan merupakan bagian dari sistem pelatihan.
Biomekanik  dapat  membantu  atlet dalam:
  • Mengidentifikasi teknik terbaik untuk meningkatkan performa atlit
  • Menjelaskan cara-cara yang aman dalam melakukan gerakan yang efektif untuk menghindari resiko cedera pada atlit.
  • Menyediakan/memberikan analisa mendalam pada peralatan olahraga yang dipakai oleh para atlit
4.      Nutrisi
Sangatlah penting untuk mengkunsumsi makanan yang cukup dan seimbang setiap hari untuk menjaga agar tubuh tetap sehat. Asupan nutrisi yang seimbang dan tepat merupakan kunci kesuksesan performa atlet. Kombinasi kalori yang tepat antara asupan karbohidrat, protein, dan lemak akan menghasilkan energi yang menunjang performa maksimal seorang atlet Nutrisi yang tidak tepat akan menyebabkan cedera dan mengambat proses pemulihan pada atlet setelah melakukan aktivitas latihan atau pertandingan. Asupan  glycogen (seperti karbohidrat, roti, pasta, dan lain-lain) yang kurang pada saat latihan dapat  menyebabkan kekurangan glycogen kronis, jika hal ini terjadi selama beberapa periode dapat  menimbulkan  cedera  pada  jaringan  tubuh.  Hasil  penelitian menunjukkan, tubuh sangat  tergantung pada lemak dan protein, dimana lemak dan protein merupakan cadangan energi alternatif yang dapat meningkatkan protein dalam otot.
5.      Kedokteran Olahraga
Kedokteran olahraga menjadi bagian yang penting dalam aktivitas olahraga terutama olahraga yang dituntut prestasi. Dalam kedokteran olahraga meliputi beberapa bidang penting diantaranya:
Ø  Pemeliharaan kesehatan atlet
Ø  Penanganan cedera
Ø  Pemulihan cedera
Ø  Doping
Ø  Terapi
Ø  Massase
Ø  Nutris
Lantas dimana peranan ilmu antropologi? Apakah memang tidak punya peran signifikan dalam kehidupan sehari-hari? Pertanyaan-pertanyaan ini muncul menyeruak begitu saja dalam pikiran saya, dan mungkin juga teman-teman yang lain yang sedang belajar ilmu antropologi.
Penguasaan akan konsep kultur (culture) memang sesuatu yang sangat mendasar keperluannya bagi antropologi dan harus dikuasai, termasuk antropologi terapan. Saya punya kecenderungan pribadi, bahwa untuk antropologi terapan, khususnya lagi untuk bidang antropologi pembangunan (development anthropology), saya lebih tertarik kepada aliran cultural studies yang lebih berkembang di Inggris, atau lebih khusus lagi cultural developmentalism. Semua yang disebut oleh Prof. Koentjaraningrat dengan istilah “kebudayaan”, “sistem nilai-budaya”, dan “sikap mental” adalah termasuk kedalam konsep kultur, menurut aliran cultural developmentalism.
Kultur dalam kajian-kajian cultural development adalah “sistem ideasional”, atau “sistem gagasan”, atau the state of mind yang mendorong pola perilaku yang khas pada suatu kelompok sosial tertentu. Kultur, pada satu saat berada pada posisi independent variable bila dikaitkan dengan kemajuan perekonomian suatu masyarakat. Namun di saat lain, untuk mencapai kemajuan perekonomian tersebut kultur-pun bisa direkayasa melalui public policy, dan kultur berubah menjadi dependent variable.  Tempat yang pas bagi kultur adalah seperti yang diungkapkan oleh Daniel Patrict Moynihan, bahwa “The central conservative truth is that it is culture, not politics, that determines the success of a society. The central liberal truth is that politics can change a culture and save it from itself” (dikutip dalam Huntington 2000:xiv).
Aliran cultural developmentalism cukup mengartikan kultur secara umum seperti itu. Mereka tidak terlalu pusing apakah kultur itu ada di dalam otak manusia (seperti pendapat aliran antropologi kognitif) atau di arena publik di luar diri manusia (seperti pendapat Geertz); atau apakah kultur itu berstruktur serba-dua (menurut Levi-Strauss) atau serba-empat (menurut strukturalisme Belanda), atau cukup bersistem saja (menurut aliran materialisme kultural).
IV.            PENUTUP
Antropologi terapan adalah satu bidang dalam ilmu antropologi di mana pengetahuan (knowledge), ketrampilan (skills), dan sudut-pandang (perspective) ilmu antropologi digunakan untuk menolong mencari solusi bagi masalah-masalah praktis kemanusiaan dan memfasilitasi kebutuhan pembangunan. Ada juga orang yang mendefinisikan antropologi terapan sebagai “the field of inquiry which is concerned with the relationships between anthropological knowledge and the uses of that knowledge in the world beyond anthropology” (Chambers 1989:x). Secara strategis, dalam kajian-kajian antropologi terapan, antropolog harus memperlihatkan bagaimana konsep teoritis diterapkan secara empiris ke dalam kenyataan sehari-hari, yang pada gilirannya analisis empiris ini akan berguna untuk keperluan praktis dan sekaligus memberikan umpan-balik bagi pengembangan teori dan konsep antropologi. Jadi dalam antropologi terapan, teori dan praktis adalah saling memperkuat secara dialektis.
Yang diperlukan dalam suatu tindakan salah satunya adalah aksi afirmatif atau di Eropa dikenal sebagai diskriminasi positif yang menunjuk kepada kebijakan yang bertujuan untuk menyebarluaskan akses ke pendidikan atau pekerjaan bagi kelompok non-dominan secara sosial-politik berdasarkan sejarah (terutama minoritas atau perempuan). Motivasi untuk aksi afirmatif adalah mengurangi efek diskriminasi dan untuk mendorong institusi publik seperti universitas, rumah sakit, dan polisi untuk lebih dapat mewakili populasi (http://plato.stanford.edu/entries/affirmative-action)
Dalam kaitannya dengan olimpiade, dalam cabang berenang harusnya yang dikirim adalah orang Bajo. Sejak lahir, orang Bajo ini sudah dikenalkan dengan kultur maritim, mereka terkenal jago berenang bahkan ada yang mengatakan bahwa paru-paru orang Bajo sebagian besar mirip insang pada ikan. Dengan kemampuan sejak lahir ini, tidak menutup kemungkinan bahwa mereka akan mampu menyumbang medali emas bagi kontingen Indonesia di olimpiade. Sedangkan cabang menembak dan panahan, orang dayak atau orang papua memiliki pengalaman yang tak meragukan lagi. Ketepatan bidikan mereka dalam memburu binatang buruan tak bisa diremehkan. Orang Dayak dan orang Papua sudah terbiasa di kehidupan sehari-harinya dengan panah ataupun sumpit. Jika mereka diberi kesempatan mengikuti olimpiade, tidak menutup kemungkinan juga mereka bakal menyumbang emas.
Perlu diingat juga bahwa setiap ilmu terapan adalah dilandasi oleh satu nilai tertentu. Sementara itu science menuntut objektifitas, tidak subjektif, dan tidak berpihak dan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan. Antropologi terapan secara historis lahir bersama dengan pandangan etnosentrisme Ero-Amerika. Antropologi terapan Indonesia, jika berkembang, juga punya kemungkinan kecenderungan akan diwarnai oleh Indonesia sentris, atau mungkin Jawa sentris.

BAHAN BACAAN

Benedict, Ruth.
1962      Pola-pola Kebudajaan. (terjemahan ke dalam bahasa Indonesia) Jakarta: Penerbit Pustaka Rakjat

Koentjaraningrat
 1974      Kebudayaan, Mentalitas, dan Pembangunan. Jakarta: Gramedia

Lubis, Mochtar.
1977       Manusia Indonesia (Sebuah pertanggungan jawab). Jakarta: Inti Idayu Press

Tim Penyusun Sport Science KONI Pusat,                                                     
 2012      Pemahaman Dasar Sport Science dan Penerapan Iptek Olahraga

Kompas edisi Jumat 13 Juli 2012 dalam kolom olahraga
Kompas edisi Minggu 15 Juli 2012 dalam kolom olahraga

Tidak ada komentar: