Dua bentuk antropologi struktural yang didiskusikan di artikel ini, yaitu
antropologi struktural Amerika dan Prancis. Meskipun keduanya menggunakan
metode linguistic sebagai model untuk deskripsi dan analisis kultural, namun
hasil analisis mereka sangatlah berbeda. Hal ini disebabkan karena mereka
melihat secara berbeda pada beberapa hal yang sama. Para antropologi struktural
Amerika mempertahankan bahwa tugas utama antropologi adalah mengukur perbedaan
dan kesamaan dari masyarakat manusia dengan emnggunakan studi lintas-budaya
secata komparatif. Strategi ini akan memungkinkan mereka menformulasikan
“hukum-hukum” dari fenomena sosio-kultural. Sementara antropolog struktural
Prancis mempertahankan pemahaman bahwa dalam menjelaskan suatu fenomena,
seorang antropolog haruslah berupa model yang efisien dan singkat. Strukturalis
Prancis memilih untuk membandingkan perangkat relasional dan posisional dari
suatu fenomena melalui investigasi. Perbedaan antara strukturalis Prancis dan
Amerika juga berawal dari ide-ide yang sangat mendasar lainnya. Misalnya, ide
tentang lingkungan masyarakat dan kebudayaan ataupun mengenai konsepsi tentang
fenomena sosiokultural. Dalam pandangan strukturalis Prancis, fenomena
sosiokultural terdiri dari keberagaman, derajat ketergantungan dari tatanan
relasi, kesamaan struktur, dan sebagainya. Tujuan antropologi kemudian adalah
memformulasikan aturan tranformasi dari suatu struktur ke struktur yang lain.
Sementara itu, para strukturalis Amerika melihat fenomena sosiokultural sebagai
suatu system dengan kausalitas, relasi fungsional diantara lemen-elemennya, dan
tujuan antropologi adalah memperhatikan hokum keteraturan meskipun telah
melalui suatu pengujian lintas-budaya.
Terkait erat dengan perbedaan tersebut, mereka juga memiliki pandangan
yang berbeda dalam kreteria teori ilmiah. Bagi strukturalis Amerika, suatu ilmu
yang valid mengenai perilaku manusia, haruslah diuji dengan merujuk pada
berbagai manifestasi pada perilaku manusia yang ada di begitua banyak masyakat
manusia. Metode komparatif menjadi tak terelakkan dan status keilmiahan suatu
teori adalah melalui ‘falsifiability’. Strukturalis
Prancis, sebaliknya, lebih memperhatikan pemahaman trhadap fenomena
sosiokultural, misalnya memperhatikan tata logika dengan menggunakan suatu
model. Konsekuensinya, konsepsi suatu ilmu dengan suatu verifikasi
eksperimental adalah tidak dapat diterapkan pada analisis struktural. Status
keilmiahan dari suatu teori struktural ditentukan melalui kesederhanaan
modelnya.
Dari perspektif epistimologis, perbedaan antara struktralisme Amerika dan
Prancis terletak pada konsepsi mereka terhadap kebenaran, dan relasi antara
pikiran dan fenomena yang diobservasi. Strukturalis Amerika mengadobsi
korespondensi teori kebenaran, yang menyatakan bahwa bahwa fakta adalah “given”
(melekat dengan sendirinya), stabil, tidak dipengaruhi oleh kehadiran pengamat,
dan tentu saja tersedia bagi pengamat itu sendiri namun terpisah dengan
pengamat tersebut. Kualitas dari fakta yang diasumsikan memungkinkan para
ilmuwan untuk menggunakan korespondensi sebagai kriteria verifikasi. Di sisi
yang berseberangan, para strukturalis Prancis membela koherensi (coherence)
teori kebenaran, yang menyatakan bawha tak ada pemisahan antara pikiran dan
fenomena yang diamati. Fakta tidaklah “given” (tidak melekat dengan sendirinya), dan ia
dipengaruhi oleh kehadiran pengamat, sehingga mengurangi kemungkinan
identifikasi positif. Relasi antara fenomena adalah integral bagi fenomena itu
sendiri. Konsekuensinya, penjelasan yang mungkin adalah penjelasan terkait
relasi-relasi. Kriteria verifikasi adalah koherensi antara oposisi atau
organisasi logis atau ketergantungan mutualistis antara proposisi.
Akhirnya perbedaan antara antropologi struktural Amerika dan Perancis juga
dapat ditemukan pada konsepsi mereka terhadap makna dan pemaknaan. Ketika para
strukturalis Amerika menyatakan bahwa makna dari suatu simbol sebagai apa yang
ditunjuknya atau relasinya terhadap simbol lain, maka strukturalis Perancis
percaya bahwa makna suatu simbol ditentukan oleh posisinya sepanjang dua sumbu
simbolik: sintagmatik dan paradigmatik, dan tak ada hubungannya dengan semantik.
Demikianlah perbedaan-perbedaan yang signifikan diantara dua antropologi
struktural. Dengan memahami dan mengapresiasi perbedaan dan latar belakang
perbedaan tersebut, dapat dihindari kritik yang tidak perlu atau yang tidak
akurat melawan pendekatan struktural dalam antropologi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar