31 Maret 2014

Review: Structural Anthropology in America and France: A Comparison



Dua bentuk antropologi struktural yang didiskusikan di artikel ini, yaitu antropologi struktural Amerika dan Prancis. Meskipun keduanya menggunakan metode linguistic sebagai model untuk deskripsi dan analisis kultural, namun hasil analisis mereka sangatlah berbeda. Hal ini disebabkan karena mereka melihat secara berbeda pada beberapa hal yang sama. Para antropologi struktural Amerika mempertahankan bahwa tugas utama antropologi adalah mengukur perbedaan dan kesamaan dari masyarakat manusia dengan emnggunakan studi lintas-budaya secata komparatif. Strategi ini akan memungkinkan mereka menformulasikan “hukum-hukum” dari fenomena sosio-kultural. Sementara antropolog struktural Prancis mempertahankan pemahaman bahwa dalam menjelaskan suatu fenomena, seorang antropolog haruslah berupa model yang efisien dan singkat. Strukturalis Prancis memilih untuk membandingkan perangkat relasional dan posisional dari suatu fenomena melalui investigasi. Perbedaan antara strukturalis Prancis dan Amerika juga berawal dari ide-ide yang sangat mendasar lainnya. Misalnya, ide tentang lingkungan masyarakat dan kebudayaan ataupun mengenai konsepsi tentang fenomena sosiokultural. Dalam pandangan strukturalis Prancis, fenomena sosiokultural terdiri dari keberagaman, derajat ketergantungan dari tatanan relasi, kesamaan struktur, dan sebagainya. Tujuan antropologi kemudian adalah memformulasikan aturan tranformasi dari suatu struktur ke struktur yang lain. Sementara itu, para strukturalis Amerika melihat fenomena sosiokultural sebagai suatu system dengan kausalitas, relasi fungsional diantara lemen-elemennya, dan tujuan antropologi adalah memperhatikan hokum keteraturan meskipun telah melalui suatu pengujian lintas-budaya.
Terkait erat dengan perbedaan tersebut, mereka juga memiliki pandangan yang berbeda dalam kreteria teori ilmiah. Bagi strukturalis Amerika, suatu ilmu yang valid mengenai perilaku manusia, haruslah diuji dengan merujuk pada berbagai manifestasi pada perilaku manusia yang ada di begitua banyak masyakat manusia. Metode komparatif menjadi tak terelakkan dan status keilmiahan suatu teori  adalah melalui ‘falsifiability’. Strukturalis Prancis, sebaliknya, lebih memperhatikan pemahaman trhadap fenomena sosiokultural, misalnya memperhatikan tata logika dengan menggunakan suatu model. Konsekuensinya, konsepsi suatu ilmu dengan suatu verifikasi eksperimental adalah tidak dapat diterapkan pada analisis struktural. Status keilmiahan dari suatu teori struktural ditentukan melalui kesederhanaan modelnya.
Dari perspektif epistimologis, perbedaan antara struktralisme Amerika dan Prancis terletak pada konsepsi mereka terhadap kebenaran, dan relasi antara pikiran dan fenomena yang diobservasi. Strukturalis Amerika mengadobsi korespondensi teori kebenaran, yang menyatakan bahwa bahwa fakta adalah “given” (melekat dengan sendirinya), stabil, tidak dipengaruhi oleh kehadiran pengamat, dan tentu saja tersedia bagi pengamat itu sendiri namun terpisah dengan pengamat tersebut. Kualitas dari fakta yang diasumsikan memungkinkan para ilmuwan untuk menggunakan korespondensi sebagai kriteria verifikasi. Di sisi yang berseberangan, para strukturalis Prancis membela koherensi (coherence) teori kebenaran, yang menyatakan bawha tak ada pemisahan antara pikiran dan fenomena yang diamati. Fakta tidaklah “given” (tidak  melekat dengan sendirinya), dan ia dipengaruhi oleh kehadiran pengamat, sehingga mengurangi kemungkinan identifikasi positif. Relasi antara fenomena adalah integral bagi fenomena itu sendiri. Konsekuensinya, penjelasan yang mungkin adalah penjelasan terkait relasi-relasi. Kriteria verifikasi adalah koherensi antara oposisi atau organisasi logis atau ketergantungan mutualistis antara proposisi.
Akhirnya perbedaan antara antropologi struktural Amerika dan Perancis juga dapat ditemukan pada konsepsi mereka terhadap makna dan pemaknaan. Ketika para strukturalis Amerika menyatakan bahwa makna dari suatu simbol sebagai apa yang ditunjuknya atau relasinya terhadap simbol lain, maka strukturalis Perancis percaya bahwa makna suatu simbol ditentukan oleh posisinya sepanjang dua sumbu simbolik: sintagmatik dan paradigmatik, dan tak ada hubungannya dengan semantik.
Demikianlah perbedaan-perbedaan yang signifikan diantara dua antropologi struktural. Dengan memahami dan mengapresiasi perbedaan dan latar belakang perbedaan tersebut, dapat dihindari kritik yang tidak perlu atau yang tidak akurat melawan pendekatan struktural dalam antropologi.

Tidak ada komentar: